Berbagai gerakan kepanduan yang muncul membuat bidang kepanduan berkembang pesat di Indonesia. Bahkan, sampai menarik perhatian dari Bapak Pandu Dunia Lord Baden-Powell.
Kala itu, Powell sempat mengunjungi beberapa organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya pada 1934.
Bahkan, perwakilan gerakan kepanduan Indonesia sempat mengikuti Jambore Kepanduan Dunia di Belanda pada 1937.
Kemudian, Indonesia juga mendirikan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (All Indonesia Jambore) di Yogyakarta pada 19-23 Juli 1941.
Lahirnya Pandu Rakyat Indonesia
Keikutsertaan Indonesia dalam Jambore Kepanduan Dunia dan pendirian Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem menjadi cikal bakal terlaksananya Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta, Jawa Tengah pada 29 Desember 1945.
Hasilnya, terbentuklah Pandu Rakyat Indonesia. Namun, Pandu Rakyat Indonesia sempat dilarang berdiri di daerah yang dikuasai Belanda pada masa Agresmi Militer 1948.
Hal ini membuat masyarakat mendirikan beberapa organisasi kepanduan baru seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Totalnya, ada sekitar 100 organisasi kepanduan pada masa itu dan semuanya tergabung dalam wadah besar bernama Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).
Sayangnya, jumlah organisasi ini tidak sebanding dengan jumlah anggota perkumpulannya dan masih terpecah-pecah.
Baca Juga: Teaser NCT 2023 CONNECTION: Taeyong Mencari Inspirasi Musik di New York
Sejarah Hari Pramuka Indonesia
Sejarah Hari Pramuka Indonesia 14 Agustus berlanjut pada munculnya gagasan untuk membentuk wadah kepanduan nasional bernama Pramuka.
Gagasan itu muncul dari Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang merupakan Pandu Agung. Mereka ingin ada peleburan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia.
Soekarno mengungkapkan gagasan itu ketika mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Desa Semanggi, Ciputat, Tangerang pada Oktober 1959.
Setelah itu, Presiden Soekarno menunjuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono untuk menjadi panitia Gerakan Pramuka dalam rangka mempersiapkan organisasi tersebut.
Selanjutnya, Pramuka sebagai wadah gerakan kepanduan di Indonesia diresmikan pada 9 Maret 1961. Momen penting ini kini diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.