PURWOKERTO.SUARA.COM, MAGELANG-Wacana kenaikan harga tiket masuk Candi Borobudur menjadi Rp 750 ribu mengundang reaksi masyarakat atau wisatawan.
Bagaimana tidak, kenaikan harga tiket berlipat-lipat dan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat atau wisatawan, khususnya kaum menengah ke bawah.
Lika, wisatawan asal Banjarnegara harus mengubur keinginannya untuk bisa berlibur ke Borobudur.
Ia sebenarnya sudah merencanakan untuk berwisata ke Borobudur bersama suami dan seorang anaknya. Setahu dia, tiket masuk Candi Borobudur Rp 50 ribu.
Meski relatif mahal ketimbang objek wisata lain pada umumnya, ia memaklumi karena Candi Borobudur merupakan destinasi kelas internasional. Ia pun sudah menyiapkannya.
Namun berita mengenai wacana kenaikan harga tiket Candi Borobudur membuatnya kecil hati. Pasalnya, kenaikan harga tiket di luar jangkauannya.
"Saya bertiga, berarti untuk masuk Borobudur harus keluar Rp 2.250.000,"katanya
Lika jelas berpikir ulang lagi untuk berkunjung ke Borobudur. Ia memilih membatalkan niatnya ke Borobudur ketimbang harus keluar kocek dalam.
Uang sebesar itu, menurut dia, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Ia mengaku tak masalah tidak jadi berwisata ke Borobudur daripada harus membayar mahal.
Ia juga mengaku tak ingin berangan-angan lagi berlibur ke Borobudur karena harga tiket wisata itu sudah tak ramah bagi wisatawan berkantong pas-pasan sepertinya.
"Saya mending menonton Borobudur lewat YouTube saja," katanya
Ia sebenarnya memaklumi alasan kenaikan harga tiket itu untuk menjaga kelestarian Borobudur sebagai warisan dunia.
Namun menurutnya ada banyak cara lain selain melambungkan harga tiket sehingga tak bisa dijangkau wisatawan.
Misalnya dengan membatasi jumlah pengunjung yang naik ke Candi. Atau melarang tegas pengunjung masuk ke area candi yang bangunannya sudah lapuk.