PURWOKERTO.SUARA.COM - Timnas Indonesia U-16 meraih hasil sempurna di babak penyisihan grup A Piala AFF U-16. Timnas U-16 Indonesia mengalahkan Filipina 2-0, melibas Singapura 9-0 dan comeback saat melawan Vietnam 2-1.
Tampil memukau sepanjang gelaran piala AFF U-16, Pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti mengungkap proses yang dijalani skuat Garuda Muda hingga tampil impresif.
Ternya ada proses panjang di balik sukses timnas Indonesia U-16. Ada proses pembelajaran dan pendisiplinan saat pemain menjalani pemusatan latihan.
“Saya pikir ini pembelajaran untuk pemain. Kami sebagai tim pelatih dan ofisial sudah mengedukasi mereka, memberi ilmu kepada mereka, memosisikan diri kami sebagai orang tua, kakak, atau teman bagi mereka. Bukan hanya ilmu bola saja, tapi di luar lapangan itu sangat penting agar mereka bisa belajar,” jelas Bima.
Selain itu, Bima juga mengajarkan mengenai peraturuan-peraturan yang berlaku di timnya. “Seperti penggunaan telepon seluler kami batasi. Selain itu juga menjaga disiplin mereka dengan ibadah bersama-sama. Kemudian untuk yang nonmuslim, setiap hari minggu kami memberi kesempatan ke gereja, kami siapkan kendaraan.”
“Contoh lain untuk Krisna (I Komang Ananta Krisna Putra) setiap minggu kita antar dia naik mobil ke Pura. Terpenting adalah itu, ibadah mereka. Kami juga edukasi ke pemain untuk jangan cepat puas, jangan sombong,” imbuhnya.
Hal-hal seperti itu juga ternyata terbawa dan terpatri di salah satu pemain di tim Bima sebelumnya.
“Kemarin tiba-tiba Marselino (Ferdinan) whatsapp saya, mengucapkan selamat atas kemenangan pada pertandingan melawan Filipina, semoga berikutnya lebih baik. Saya ceritakan itu ke mereka (pemainnya saat ini). Itu menjadi contoh, mudah-mudahan ada Marselino-marselino lain yang bisa teruskan tradisi seperti itu dari tim ini,” beber Bima.
Dua tradisi terakhir di tim ini adalah membawa jersey Alfin Lestaluhu dan menempatkan foto-foto orangtua pemain di ruang ganti.
“Hampir tiga tahun Alfin meninggalkan kita semua, banyak kenangan dengannya. Satu yang paling saya ingat adalah saat dia dengan berani menghampiri saya dan bilang ke saya, untuk mengambil tendangan penalti (melawan Vietnam di Chonburi), meski gagal mengeksekusinya, begitu tidak gol dia langsung datang ke saya lagi terus minta maaf. Saya bilang tidak usah, kamu hebat. Saya salut dengan keberaniannya, anak umur segitu punya mental dan keberanian yang saya sulit bisa katakan dengan kata-kata,” kenang Bima.
“Kemudian, melihat mental dan emosi anak-anak ini yang masih labil, serta kadang suka mengingat orangtua mereka. Maka saya dan tim pelatih serta ofisial sepakat untuk menaruh foto-foto orangtua para pemain di ruang ganti pemain. Agar mereka bisa terus mengingat kedua orang yang telah melahirkan dan membesarkan mereka selama ini, serta berdoa untuk kedua orangtuanya,” tutup Bima.