PURWOKETO.SUARA.COM – Gawai yang terhubung sistem daring dengan berbagai fitur ibarat pisau bermata dua. yang bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami "gangguan jiwa" akibat kecanduan gawai.
Selain menjadi alat komunikasi dan sumber informasi, gawai yang dilengkapi berbagai fitur juga menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengakses media sosial, gim, dan fitur lainnya secara daring yang belum sesuai untuk usianya.
Bahkan, penggunaan gawai yang terus-menerus tanpa mengenal waktu berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak serta membuat anak kecanduan atau adiksi gawai. Fenomena anak-anak yang kecanduan gawai setidaknya semakin terlihat dalam lima tahun terakhir.
Meskipun belum ada angka pasti berapa persentase dan jumlah anak yang mengalami gejala kecanduan atau kecanduan gawai, dari sejumlah kasus yang terungkap di publik, hasil kajian, survei, dan penelitian menunjukkan fenomena kecanduan gawai pada anak.
Bahkan jika dilihat saat ini berada pada situasi mengkhawatirkan. Tak hanya menjadi korban, anak-anak juga terlibat dalam sejumlah kasus yang masuk kategori tindak pidana. Memang bermain gawai tidak hanya digemari oleh kalangan dewasa saja. Akan tetapi saat ini anak-anak apalagi yang masih balita suka bermain gadget. Meskipun hanya sekedar nonton kartun lewat youtube.
Hal ini jika dibiarkan secara terus menerus maka akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak. Namun, hal tersebut bisa diatasi jika anak maupun balita diberikan beberapa permainan yang membuat anak semakin aktif dan tidak mengandalkan permainan yang ada dalam smartphone saja.
Seperti yang dilansir Antara Psikolog klinis anak dan remaja Adisti Fathimah Soegoto M.Psi, Psikolog, BFRP merekomendasikan beberapa ide permainan yang dapat orangtua mainkan bersama anak tanpa harus menggunakan gawai, salah satunya memecahkan gelembung.
Bach Flower Practitioner itu melalui siaran persnya awal pekan lalu juga mengatakan bahwa saat melakukan permainan ini, orangtua dapat meniup gelembung busa (bubble) dan meminta anak untuk memecahkannya dengan anggota tubuh tertentu.
Menurut Adisti dari permainan yang sederhana ini, anak belajar mengenai bagaimana mengikuti aturan. Ide kedua yakni bermain masak-masakan. Orangtua dapat mengajak anak melakukan kegiatan memasak dalam lingkungan yang aman dengan main masak-masakan bersama.
Baca Juga: BRIN Sebut Saat Puncak Gerhana Bulan TotalPasang Naik Air Laut Bakal Lebih Tinggi
Beberapa permainan tersebut bisa diterapkan bagi anak maupun remaja yang sangat sulit lepas dari gadget. Agar nantinya dalam pertumbuhan anak tidak terganggu. Anak jadi lebih produktif dalam mengambil pelajaran saat bermain dengan permainan tradisional.*(ANIK AS)