PURWOKERTO.SUARA.COM - Gaya hidup pada anak yang tidak memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi membuat resiko penyakit bagi tubuh anak dan remaja semakin besar dan beragam.
Hal itu disampaikan Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan adanya tren diabetes tipe dua pada anak dan remaja yang muncul karena faktor gaya hidup tidak sehat.
“Sekarang ini yang mengkhawatirkan adalah tren diabetes tipe 2 pada remaja dan anak,” kata Piprim dikutip Antara, Minggu (05/03/2023).
Menurutnya Piprim, jika melihat dulu, penyakit itu yang harusnya muncul di usia 40 tahun ke atas, sekarang malah sudah ditarik lebih prematur lagi ke anak-anak.
Sehingga anak-anak sekarang sudah banyak yang diabetes tipe 2. Tipe ini ada faktor genetik sedikit, tapi faktor gaya hidup, faktor pola makan itu yang sangat-sangat penting.
"Nah pola makan seperti apa? Kalau kita lihat, dasar dari diabetes tipe 2 adalah resisten insulin,” sambungnya.
Resisten insulin adalah gangguan penyerapan glukosa pada otot dan peningkatan produksi glukosa oleh hati. Penyebab dari resisten insulin adalah karena mengonsumsi makanan yang bersifat manis dan karbohidrat.
Lebih lanjut, Piprim mengingatkan gaya hidup mengonsumsi junk food menjadi salah satu penyebab anak mengalami diabetes tipe 2. Sebab makanan-makanan tersebut mengandung tinggi gula hingga tinggi tepung.
“70 persen anak diabetes itu obesitas. Hanya 30 persen anak diabetes tipe 2 yang tidak obesitas,” terangnya.
Baca Juga: Magelang Kota Kenangan yang Menyimpan Sensasi Mendaki di Pegunungan : Berani Coba ?
Jadi kalau tipe 2 nanti kaitannya dengan obesitas, sindrom metabolik. Tapi tipe 1 biasanya kurus sehingga ia mengingatkan diabetes memiliki bahaya jangka panjang.
Misalnya bisa mengakibatkan gangguan pada mata, diabetic retinopathy yang bisa menyebabkan kebutaan.
Kemudian, bisa juga terkena gagal ginjal kronik, serangan jantung, stroke hingga penyumbatan pembuluh darah di kaki yang berisiko diamputasi.
“Jadi, sekarang kita harus kembali dengan jargonnya, yang merusak masyarakat itu adalah junk food. Makanan, snack, segala macam yang ada barcode-nya. Lawan dari junk food adalah real food, makanan yang tidak punya barcode. Misalnya ikan, telur, ayam, sayuran, tahu dan tempe,” katanya.
“Ayo kembali ke real food. Kembali ke makanan Indonesia, makanan tradisional kita, makanan nenek moyang kita itu jauh menyehatkan. Kaya protein hewani dan nabati. Tapi anak-anak, balita khususnya, itu hewaninya dulu yang dipenuhi,” pesan Piprim.***