PURWOKERTO. SUARA.COM, Seorang pemimpin atau penguasa harus memiliki rasa empati terhadap rakyatnya. Terlebih, banyak rakyatnya yang masih menderita karena kemiskinan.
Ini pula yang ditunjukkan Umar bin Abdul Aziz saat menjabat sebagai khalifah Dinasti Umayah. Ia melarang keluarganya untuk bermewah-mewahan.
Dikutip dari nu.or.id, kisah ini terungkap dalam Kitab Tarikhul Khulafa, (Jeddah, KSA, Darul Minhaj, cetakan II, halaman 379), karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi.
Dalam kitab tersebut dijelaskan, Al-Laits meriwayatkan, di awal kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, ia melakukan pembenahan yang dimulai dari keluarganya sendiri.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz membersihkan dan mengambil semua harta yang dimiliki oleh keluarganya. Khalifah terbaik di masa Dinasti Umayah ini menamakan harta keluarganya tersebut dengan sebutan kekayaan yang diperoleh dari perbuatan dzalim.
Dikisahkan Furat bin As-Saib, Umar bin Abdul Aziz secara tegas meminta istrinya, Fatimah binti Abdul Malik untuk memilih suaminya atau harta yang dimiliki.
"Pilihlah, kamu kembalikan perhiasan itu ke baitul mal atau kamu izinkan aku untuk berpisah denganmu? Sebab aku sangat membenci jika aku, kamu, dan perhiasan itu berada dalam satu rumah," tegas Umar bin Abdul Aziz pada istrinya.
Sebagai istri salehah, Fatimah binti Abdul Malik enggan berpisah dengan Umar bin Abdul Aziz. Ia memilih melepas perhiasannya ketimbang suami tercinta.
"Tidak wahai suamiku, aku akan tetap memilih kamu daripada perhiasan ini, bahkan jika ada yang lebih dari perhiasan ini, aku akan tetap memilihmu," jawab Fatimah.
Baca Juga: Sedang Berlangsung, All Indonesian Final All England 2023, Ini Link Live Streamingnya
Umar bin Abdul Aziz merasa lega dengan jawaban istrinya. Ia kemudian menyuruh pegawainya untuk membawa dan menyimpan perhiasan istrinya ke kas negara (baitul mal).
Setelah Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia karena diracun, kepemimpinan Dinasti Umayah diganti Yazid bin Abdul Malik.
Yazid menawarkan pada Fatimah untuk mengambil dan mengembalikan perhiasan tersebut dari Baitul Mal sepeninggal suaminya.
"Jika kamu mau, semua perhiasan itu akan aku kembalikan lagi padamu," ujar Yazid menawarkan pada Fatimah.
"Tidak, mana mungkin saya menyatakan rela melepas perhiasanku saat suamiku masih hidup namun melepas kerelaan itu ketika ia sudah wafat," tegas Fatimah pada Yazid.
Hikmah di balik sepenggal kisah tersebut, penting bagi umat Islam menjaga keluarga dari godaan dunia. Ini mengingat keluarga mempunyai peran vital dalam memengaruhi perilaku seseorang, termasuk melakukan hal yang dimurkai Allah.