PURWOKERTO.SUARA.COM – Sejumlah delegasi atau perwakilan Palang Merah Jepang kunjungi Kabupaten Kebumen pada 2-5 Oktober 2023 kemarin.
Kunjungan selama empat hari tersebut disambut hangat oleh jajaran pengurus dan relawan PMI Kabupaten Kebumen sebagai rangkaian dari monitoring program JRCS yang tengah berlangsung.
Ketua PMI Kabupaten Kebumen Sabar Irianto mengatakan, kerjasama yang terjalin antara Palang Merah Jepang bersama Palang Merah Indonesia Kabupaten Kebumen hampir usai dipenghujung tahun 2023.
“Sejumlah program terlaksana antara JRCS dan PMI Kabupaten Kebumen diantaranya kesiapsiagaan bencana di sekolah maupun masyarakat, peningkatan kapisitas relawan, pembinaan PMR dan pembentukan SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat),” ujarnya.
Lebih jauh Sabar menjelaskan, selama empat hari tersebut hadir delegasi JRCS Yaitu Mr.Gaku TSUJITA, Mr. Hidenori NAKAMURA, Ms.Chiaki ENDO, Mr.Masataka SHOJI, dan Mr.Kazumichi KITAGAWA.
“Delegasi JRCS langsung ke lapangan baik desa maupun sekolah, mereka mengecek langsung sejauh mana program berjalan,” lanjut nya.
Pihaknya menjelaskan, perwakilan JRCS tersebut bahkan hingga mengecek ke setiap rumah apakah rumah tersebut memiliki tas PP dan adakah flayer atau poster tentang kebencanaan.
“Kunjungan berlangsung di 4 desa dan 3 sekolah binaan program Japanese Red Cross Society,” tegasnya.
Adapun sejumlah desa dan sekolah yang kita dikunjungi antara lain Desa Jladri Buayan, Tanggulangin Klirong, Waluyorejo Puring dan Tegalretno Petanahan.
Baca Juga: Trans Jateng, Transportasi Paling Favorit di Mata Masyarakat
Sedangkan untuk sekolah, tim JRCS mengunjungi SMPN 1 Klirong, SDN 2 Waluyorejo dan MIN 3 Kebumen.
“Kunjungan tersebut juga diisi kegiatan sharing materi kebencanaan, sosialisasi kebencanan door to door ke rumah warga serta simulasi evakuasi korban,” tandas Sabar.
Selain itu dalam sesi diskusi juga diisi dengan tukar pendapat antara Palang Merah Indonesia dengan JRCS, saling belajar tentang materi kebencanaan dari JRCS.
“Yang menarik adalah praktik cara evakuasi korban dengan alat seadanya misal memakai selimut dan sharing lebih jauh program yang sudah berjalan,” jelasnya.
Sedangkan disetiap sekolah diisi dengan kegiatan quis kebencanaan dari JRCS, simulasi gempa bumi, serta sharing program dengan Bapak/Ibu guru sekolah.
“omentum tersebut juga dimanfaatkan untuk membicarakan kendala hingga solusi untu program ini agar terus berkelanjutan,” pungkas Sabar.**Alw