Ranah.co.id - Perubahan Iklim merupakan suatu fenomena yang ditandai dengan berubahnya pola iklim dunia yang mengakibatkan adanya perubahan cuaca tidak menentu dan memberikan dampak terhadap aktivitas kehidupan manusia, hewan dan tanaman. Munculnya fenomena El Nino yang sangat kuat dan terjadi sebanyak tujuh kali sepanjang 20 tahun terakhir disertai dengan fenomena Lanina yang hampir terjadi secara bersamaan yang mengakibatkan terjadinya kekeringan yang cukup serius.
Adanya peningkatan emisi dan konsentrasi dari gas rumah kaca (GRK) mengakibatkan terjadinya pemanasan global, diikuti dengan kenaikan tinggi permukaan air laut akibat pemuaian dan pencairan es di daerah kutub. Naiknya tinggi permukaan air laut akan meningkatkan energi yang tersimpan didalam atmosfer, sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim, antara lain El Nino dan La Nina.
Fenomena El Nino dan La Nina sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca dan iklim di wilayah geografis kepulauan Indonesia.
Sektor pertanian adalah sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim karena memberi pengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, indeks pertanaman, produksi dan kualitas hasil pertanian. Data menunjukkan bahwa perubahan iklim berupa pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian antara 5 - 20% (Suberjo, 2009).
Perubahan iklim antara lain menyebabkan kekeringan dan banjir, yang berdampak terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Hal ini terjadi mempengaruhi terhadap pola dan waktu tanam serta indeks dan intensitas pertanaman (IP). Ketiga komponen agronomis tersebut saling berkaitan dengan perubahan jumlah dan pola curah hujan (ketersediaan air), pergeseran musim (maju mundur dan lamanya musim hujan dan musim kemarau). Menurut petani perubahan iklim menyebabkan semakin panjang nya musim kemarau.
Musim kemarau cenderung tiba pada bulan Juni hingga November. Pergeseran musim memberikan dampak terhadap peningkatan risiko gagal panen, kerusakan hasil panen, dan penurunan kualitas panen.
Indonesia, adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang paling menderita dampak dari adanya perubahan iklim terutama kekeringan dan banjir, karena fenomena ini dapat menurunkan produksi pangan dan kapasitas produksi. Produk Domestik Bruto, PDB Indonesia, 15% merupakan sumbangan dari sektor pertanian dan 41% dari angkatan kerja sangat bergantung dari sektor pertanian.
Kekeringan dan banjir berdampak terhadap jumlah produksi melalui luas areal panen, serangan OPT, pertumbuhan dan produktivitas tanaman. El-Nino dan kekeringan memberikan dampak lebih dominan terhadap penurunan luas areal panen seluruh komoditas dibanding dengan penurunan produtivitas. Variabilitas dan perubahan iklim dengan segala dampaknya berpotensi menyebabkan kehilangan produksi tanaman pangan, 20.6% untuk padi, 13.6% jagung, dan 12.4% kedelai (Handoko et al. 2008).
Kejadian banjir dan kekeringan dapat mengganggu tanaman pada setiap fase pertumbuhan mulai dari dari persemaian hingga panen. Gangguan tanam bisa berupa gagal tanam setelah semai, tanaman rusak karena banjir, atau puso.
Baca Juga: Hakim PN Medan Terciduk Bawa Mobil Rubicon ke Kantor, Mau Saingi Rafael Alun Nih?
Selain daripada itu adanya peningkatan intensitas banjir secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi karena meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Adanya resiko dari dampak perubahan iklim perlu diantisipasi dengan upaya memanfaatkan iklim sebagai peluang diversifikasi, peningkatan kualitas produk, minimalisasi resiko gagal tanam dan gagal panen.
*Rahmi Awalina – Dosen Fateta Unand dan Penggiat Lingkungan