SUARA SEMARANG - Lirik dan lagu Genjer Genjer ikut terdisrupsi saat pemberontakan G30S PKI meletus di tahun 1965. Genjer Genjer pun ikut tercerabut dari sebuah hasil karya budaya anak bangsa.
Lirik lagu Genjer Genjer berstigma negatif sebagai lagu perjuangan PKI sebab populer dinyanyikan oleh orang-orang pendukung partai berhaluan komunisme ini.
Lagu tradisional ini dilarang saat pemerintahan Orde Baru. Sejatinya, lagu Genjer Genjer adalah lagu perjuangan saat pereng kemerdekaan melawan penjajahan Jepang.
Hingga saat ini, lirik dan lagu Genjer Genjer juga masih menjadi lagu yang dinyatakan identik dengan pendukung pemberontakan PKI.
Lagu Genjer-genjer berasal dari Banyuwangi, hal tersebut dibuktikan dari bahasa yang digunakan pada lirik lagu Genjer Genjer, yaitu bahasa Osing.
Hingga ketika rezim Orde Baru berkuasa, lagu Genjer-genjer ramai dikonotasikan sebagai lagu perjuangan PKI, sehingga kebanyakan masyarakat Indonesia beranggapan bahwa lagu Genjer-genjer adalah lagu milik PKI.
Berikut merupakan versi asli lagu Genjer-genjer sesuai ejaan Bahasa Osing, melansir hasil penelitian skripsi Mahasiswa Universitas Udayana, Natasha Alifiandra tahun 2021, dengan judul Produksi Wacana Masyarakat Kota Semarang Terhadap Lagu Genjer Genjer Dan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Genjer-genjer nang kedok’an pating keleler
Genjer-genjer nang kedokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti genjer
Emake thole teka-teka mbubuti genjer
Oleh sak tenong mungkur sedot sing tole-tole
Genjer-genjer saiki wes digawa muleh
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diunting pada didhasar
Dijejer-jejer diunting pada didhasar
Emake jebing padha tuku gawa walasan
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
Genjer-genjer lebu kendhil walang gumulak
Genjer-genjer lebu kendhil walang gumulak
Setengah mateng dientas wong dienggo iwak
Setengah mateng dientas wong dienggo iwak
Sego rong piring sambel jeruk dipelonco
Genjer-genjer saiki wes arep dipangan.
Menurut dokumen penelitian tersebut, sejarahnya, diperoleh keterangan peneliti dari Hadhi Kusuma, sutradara film Sekeping Kenangan, dan salah satu keturunan keluarga korban peristiwa 1965, menegaskan lagu Genjer-genjer semula adalah lagu perjuangan rakyat Banyuwangi.
Genjer Genjer kemudian dipopulerkan kembali oleh musisi Bing Slamet dan Lilis Suryani sehingga menjadi semakin populer. Karena kepopulerannya dan memiliki makna lagu yang selaras dengan perjuangan PKI, membuat lagu ini kerap dinyanyikan sebagai lagu kampanye oleh PKI dan golongan komunis lainnya.
Stigma melekat yang dipandang masyarakat Indonesia sebagai lagu milik PKI. Melalui instrumen kekuasaannya, rezim Orde Baru menciptakan sintesis-sintesis untuk mempertahankan legitimasinya dengan mencap Genjer Genjer adalah lagu PKI.
Kivlan Zein Sebut Genjer Genjer Kebangkitan PKI
semula lagu Genjer-genjer adalah lagu rakyat (folksong) berasal dari Banyuwangi yang diciptakan oleh M. Arief. Melalui kesederhanaan dari nada dan liriknya, lagu ini berusaha membingkai kisah kelam masyarakat Banyuwangi ketika era kolonial Jepang.
Semakin berkembangnya waktu, lagu ini semakin populer diberbagai kalangan dan golongan masyarakat Indonesia.
Terlebih pada tahun 1950-an, M. Arief bergabung dengan Lekra yang dimana secara tidak langsung mempunyai hubungan ideologis dengan PKI, yang menyebabkan eksistensi dan posisi lagu ini semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Namun karena keterlibatannya dengan PKI tersebut, membuat Genjer-genjer kemudian dipandang negatif oleh masyarakat Indonesia, selain itu ketika rezim Orde Baru berkuasa lagu ini ramai disebut sebagai lagu kebangsaan PKI.
Oleh karenanya, pasca peristiwa G30S, lagu ini tidak luput dari usaha penghilangan yang dilakukan pemerintah Orde Baru layaknya PKI.
Genjer-genjer dianggap sebagai produk kebudayaan PKI yang harus dihilangkan eksistensinya di Indonesia, hal ini yang kemudian dipercaya kebanyakan masyarakat Indonesia sebagai suatu kebenaran.
Setidaknya hingga saat ini pengetahuan tersebut masih langgeng berkembang dikalangan masyarakat.
Pada tahun 2017, Kivlan Zein seorang pensiunan mayor jenderal era Suharto menegaskan bahwa lagu Genjer-genjer merupakan lagu perang yang digunakan PKI.
Tidak hanya itu, Kivlan Zein juga secara terang-terangan menyebutkan bahwa lagu Genjer-genjer adalah lagu terlarang.
Melansir Suara.com, saat itu Kivlan Zein, berdasarkan informan dia, jika ada acara Seminar Pengungkapan Sejarah Tahun 1965-1966 pada hari Sabtu (16/9/2017) dan acara bertajuk Asik Asik Aksi: Darurat Demokrasi Indonesia pada Minggu (17/9/2017) di Kantor YLBHI yang berujung kerusuhan.
"Waktu saya dengar, ada yang keluar pakai lambang palu arit dari kantor LBH. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan Genjer-Genjer. Itu lagu perangnya PKI ketika menyerang. Itu yang saya dengar," ujar Kivlan di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (19/9/2017).
Lebih jauh, Kivlan membantah menjadi dalang aksi pengepungan kantor YLBHI pada Minggu hingga Senin diri hari yang kemudian rusuh. Ia mengatakan malam itu sedang berada di luar Jakarta.
Sebelum itu, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat mengakui mendapat undangan dari koordinator aksi pada Jumat malam untuk ikut aksi menolak Seminar Pengungkapan Sejarah 1965-1966.
"Jumat malam Sabtu di Menteng 58. Datang ada undangan. Bukan memimpin tapi udangan untuk berbicara. Nah saya berbicara untuk menasihati mereka. Boleh dong saya berbicara. Jangan buat kerusuhan sesuaikan koridor hukum," kata dia.