SUARA SEMARANG - Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jateng menggelar Seminar Nasional yang mempertemukan para pemangku kebijakan akademik dengan politik.
Di gelar di Gedung Prof Soedarto Kampus Tembalang Universitas Diponegoro Semarang, Sabtu 10 Juni 2023, peran akademik didorong untuk lebih aktual dalam hal penelitian.
Hal ini mengingat bahwa globalisasi telah menggeser peran akademik dari penelitian pendidikan berubah ke arah penelitian industrial.
Terutama di daerah masih kurangnya pemerintah daerah Propinsi, Kabupaten, Kota, DPRD dalam melakukan RPJP (Rancangan Pembangunan Jangka Panjang) dan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) bekerjasama dengan akademik.
"Penelitian untuk kebutuhan industri, akademik belum maksimal untuk membantu dalam rancangan RPJP dan RPJM," kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti.
Maka, Agustina mendorong perlu kolaborsi dari sektor dunia akademik dengan pemangku politik dalam hal ini legislatif dan pemerintah.
Saat ini memang kerjasama dunia akademik dengan pemerintah sudah berjalan, namun kurang maksimal.
Sehingga hasilnya belum dirasakan manfaat oleh masyarakat luas secara nyata. Padahal, kata dia, secara anggaran sudah cukup banyak dikucurkan untuk penelitian akademik.
"Anggaran cukup besar tapi belum maskimal, pemerintah daerah masih berkutat seperti pembuatan gapura, penyediaan seragam PKK dan lannya, tidak substantif," katanya.
Baca Juga: Deal Boubakary Diarra Perkuat PSIS Semarang, Sang Regista Mirip Andrea Pirlo
Ia kemudian memberikan contoh sektor industri di Kabupaten Boyolali yang bisa dijadikan rancangan penelitian yang hasilnya bisa dikolaborasikan kebijakan.
Di Kabupaten Boyolali terdapat sentra peternakan sapi dengan produktifitas tinggi. Salah satunya pada produk kulit sapi dan susu sapi.
"Saya contohkan di Boyolali ini punya sapi yang bagus -bagus, produktifitas daging tinggi, susunya tinggi, dan tentu sapi dipotong kulitnya bisa dipakai. Tetapi pemanfaatan kulit di Indonesia ini import, kenapa begini? Karena tidak ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa kulit sapi Boyolali itu untuk produksi sepatu atau tas, dan menjadi lebih baik," katanya.
Ia menyayangkan, pemerintah propinsi hingga kabupaten mengucurkan dana yang cukup besar selama beberapa kurun waktu, untuk membuat penelitian.
Bagaimana kulit sapi Boyolali ini bisa menjadi produksi Tas dan Sepatu, saya yakin kulit sapi ini gak kalah dengan kualitas impor.
"Ada penelitian tapi berhentikan, hanya ada penelitian mengapa dan bagaimana itu tok, kalau penelitian ini terus membawa ke industri belum ada. Kalau dulu sebelum mas Nadiem jadi menteri penelitian hanya untuk kepentingan akademik dan tidak boleh untuk kepentingan industri, tapi sekarangkan sudah dibuka," jelasnya.