SUARA SEMARANG - Indonesia telah memulai penerapan sistem naturalisasi pemain sejak tahun 2010 dengan tujuan memperkuat Timnas yang sebelumnya masih lemah dan sulit bersaing di level internasional.
Namun, banyak naturalisasi pemain yang gagal mencapai hasil yang diharapkan, karena pemain yang dinaturalisasi kebanyakan memiliki grade rendah dan kualitas yang kurang memadai.
Namun, saat ini ada perubahan besar dalam sistem naturalisasi yang dilakukan oleh Shin Tae Yong dan Erick Thohir.
Mereka berkomitmen untuk membawa pemain grade A ke Timnas Indonesia, langkah ini mulai mendapatkan sambutan dari beberapa pemain yang menjadi incaran PSSI.
Setelah 13 tahun menjalankan program naturalisasi, Indonesia memahami pentingnya selektivitas dalam menghadirkan pemain berkualitas.
PSSI kemudian merekrut Shin Tae Yong sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia.
Pendekatan naturalisasi yang dilakukan oleh pelatih asal Korea Selatan ini berbeda dari yang dilakukan sebelumnya.
Ia lebih memprioritaskan pemain yang memiliki keturunan Indonesia dan masih berusia muda.
Pendekatan ini dilakukan karena pemain keturunan pasti memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Indonesia, dan usia muda akan membantu memperpanjang karir mereka di Timnas.
Di era Shin Tae Yong, beberapa pemain akhirnya berhasil dinaturalisasi, antara lain Shandy Walsh, Shayne Pattynama, dan Jordi Amat, yang semuanya memiliki garis keturunan Indonesia.
Selain itu, ada juga Rafael Struick dan Ivar Jenner yang dapat menjadi masa depan Timnas, mengingat usia mereka yang masih sangat muda.
Elkan Baggott juga menjadi potensi berharga karena ia tidak perlu melalui proses naturalisasi, memilih Indonesia sebagai negara pilihan sejak usia muda.
Dibawah asuhan Shin Tae Yong, Timnas Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan.
Pelatih asal Korea Selatan ini mampu menyatukan pemain lokal dengan pemain keturunan, dan hasilnya Indonesia berhasil lolos ke Piala Asia tahun depan.
Ini adalah prestasi yang sulit dicapai oleh Timnas sejak tahun 2007. Selain itu, Indonesia juga mendapatkan pengalaman berharga dalam melawan juara dunia seperti Argentina, meskipun kalah 2-0.