Maka jadilah kreasi dari kerajinan sampah menjadi barang bernilai jual yang cukup ekonomis bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga sepertinya.
“Saat itu baru 1 RW memanfaatkan sampah. Saya mikir koran satu kg hatga Rp 3 ribu, kalau saya bikinkan sesuatau misal tempat minuman gelas bisa laku Rp 50 ribu. Padahal bikin tempat minuma gelas tidak habis berlembar-lembar hanya edisi koran satu harian pun cukup,” kata dia.
Dwi Putri yang amat menyukai kerajinan tangan akhirnya mengajak beberapa orang tetangga untuk berbuat sesuatu yang bisa menghasilkan uang untuk membantu perekonomian.
“Daripada gak ngapa-ngapain daripada sore-sore ngerumpi,” kata sosok yang murah senyum itu.
Apa yang diharapkan Dwi cukup berhasil hingga dilirik para ibu-ibu dari satu RW yang jumlahnya mencapai 60 ibu-ibu untuk berkarya bersama.
Kreasi kerajinan sampah berbahan koran, plastik, kain perca dan lainnya berkembang hingga bisa menggerakkan kaum perempuan di 7 RW di desa Karanganom.
Dia lantas mendapat perhatian pemerintah desa hingga bebrapa kali mengikuti pameran yang diakomodasi Dinas Lingkungan Hidup setempat.
Dwi Putri Misnawaty sudah cukup berhasil menggerakkan banyak orang hingga memberikan kepercayaan menyerahkan kepengurusan usaha bersama itu kepada sejumlah warga.
“Saya tekankan awalnya Lillahi Taala, keikhlasan yang penting tempat kita bersih (dari sampah). Pokoknya jangan mengharap ada uangnya, yang jelas berapapun nilainya nanti dibagi sisanya masuk kas. Pengelolaan keuangan penting supaya bisa jalan usahanya,”kata dia.
Baca Juga: Aroma Minyak Atsiri Serai Wangi dari Tepi Imogiri, Muliakan Tanah Karst Geopark Gunung Sewu
Berbekal pengalamannya itu, Dwi Putri Misnawaty dilirik oleh Lazismu Muhammadiyah untuk mencoba hal baru dengan Ecoprint pada 2019.
“Saya dapat pelatihan Ecoprint Lazismu Muhammadiyah pusat, soalnya mereka melihat kita sebagai kelomok ibu-ibu yang berkreasi. Selain dapat ilmu, saya juga dapat peralatan seperti kompor, dandang, dan kain-kain. Saat itu pelatihan saya juga mencari 18 ibu-ibu yang mau bergabung,” ujarnya.
Dwi Putri Misnawaty mendapat tantangan baru yang berbeda dengan kreasi daur ulang sampah.
“Kalau Ecoprint prosesnya lebih njelimet (rumit) karena lama. Tapi dari awal pokoknya niat pertama tidak melulu materi, coba mengisi waktu dengan yang positif nanti lainnya mengikuti,” katanya.
Berjalannya waktu, dia sudah mulai menguasai bagaimana proses membuat Ecoprint menjadi lembaran Dewangga atau kain motif daun yang bernilai jual itu.