Mendengar jawaban tersebut sang guru pun tersenyum sumringah.
"Nah, begitu dong... jadi dokter, kan bagus... hehe, mosok cuma jadi penyanyi," kata guru tersebut.
Nampaknya perkataan sang guru begitu membekas bagi anaknya itu. Perlahan sang anak mulai jarang tampil bernyanyi dan bermain musik. Segala alat musik yang dia miliki seperti Piano, biola, gitar, keyboard, recorder soprano, kemudian hanya menjadi barang yang tergolek berdebu.
OmDos Bambang W Nugrogo kemudia bercerita bahwa dia mendidik anaknya sedari kecil untuk bersikap jujur. Bahkan setiap mengikuti lomba Bambang selalu menekankan pada anaknya kalah dengan jujur lebih baik daripada menang tapi curang.
Karena terlatih jujur dan tidak ingin mengecewakan guru smpnya, dia pegang erat-erat cita-citanya sebagai dokter. Bahkan, selama di bangku SMA setiap ditanya oleh siapa pun jurusan apa kuliahnya nanti, dia selalu menjawab Fakultas Kedokteran.
"Dan benar. Ketika tes masuk perguruan tinggi di tahun 2016, dia hanya mengincar Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter," kata OmDos Bamban W Nugroho.
Di tahun 2016 itu sang anak lolos dan menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu perguruan tinggi. Namun siapa sangka, memasuki tahun ketiga kuliah jiwanya terguncang.
Dia berubah menjadi pemberontak, keras, kaku dan pembantah. Hubungan dengan saudaranya yang lain pun tidak berjalan harmonis. Perkataan orang tuanya sering pula dibantah termasuk kakanya menjadi sasaran amarah dirinya.
Meski begitu dengan susah payah dan drama kuliah sang anak selesai pada tahun 2021. Tapi, kondisi kejiwaanya semakin parah, hampir setiap malam mengalami halusinasi dan beberapa kali mengatakan ingin bunuh diri.
Baca Juga: Bukan Fuji, El Rumi Dianggap Lebih Cocok dengan Aaliyah Massaid
Hal itulah yang membuat dia terpaksa menjalani perawatan hampir setahun lamanya oleh psikiater akibatnya menunda dia untuk ikut KoAs.
"Setelah menjalani pengobatan selama hampir setahun, sifatnya kembali lembut dan menjadi anak manis yang penurut.
Kembali main musik dan mencoba lagi menyanyi. Suaranya kembali merdu dan permainan pianonya," tulisnya
Tapi selama perawatan berbarengan dengan ko as Profesi Dokter, fisiknya sdh lemah dan daya pikirnya melambat akibat efek samping obat-obatan yang diminumnya. Akibatnya kemampuan dan minatnya menjadi dokter sudah lenyap.
Dengan berat OmDos Bambang W Nugroho akhirnya membuat surat pernyataan pengunduran diri anaknya dari program profesi kedokteran.
"Ya, kami sadar, cita-cita anak saya yang sebenarnya sudah 'dibunuh' oleh gurunya sendiri," ucap Bambang.