SuaraSoreang.id - Elizabeth I merupakan ratu kerajaan Inggris kelima yang terakhir dari Dinasti Tudor.
Dia lahir di Istana Placentia pada 7 September 1533 dan meninggal di Richmond Palace pada 24 Maret 1603.
Hingga kematiannya, terdapat misteri konspirasi besar dalam kehidupannya yang hingga kini cukup menarik untuk diulik.
Konon, Ratu Elizabeth I yang menjabat sebagi penguasa monarki pada saat itu adalah seorang pria.
Desas-desus itu sudah lama menjadi kabar yang membuat banyak orang bertanya-tanya.
Cerita ini juga dikisahkan dalam sebuah buku karya Steve Berry penulis asal Amerika Serikat, dengan judul "The King's Deception".
Pada ratusan tahun lalu, terjadi kepanikan di istana kecil yang terletak di desa Cotswold, Bisley, Gloucestershire.
Kala itu, ayahnya Raja Henry VIII sedang melakukan perjalanan jauh dari London. Dan ia bisa datang kapan saja demi menemui putrinya.
Kala itu, Elizabeth kecil diamankan di pedesaan demi terhindar dari wabah yang menyerang ibukota.
Namun, ternyata di pedesaan tempat Elizabeth diamankan itu mengalami demam tinggi hingga pendarahan. Berminggu-minggu Elizabeth sakit.
Akhirnya, sebelum Raja Henry VIII datang, Elizabeth meninggal dunia.
Pengasuh Elizabeth saat itu adalah Lady Kat Ashley. Dia panik menghadapi berita duka ini. Ashley juga tak memiliki kuasa untuk mengatakan yang sejujurnya.
Pengasuh itu merasa takut dengan kebengisan Henry VIII, bisa-bisa para penjaga putri kesayangannya itu jiwanya melayang.
Sebab, hanya Elizabeth lah yang menjadi satu-satunya harapan bagi Henry VIII. Empat anak penguasa Tudor itu meninggal saat masih kecil. Edward terlalu sering sakit-sakitan sejak kecil, dan anak gadisnya yang berumur 20 tahun merana karena patah hati dan belun juga menikah.
Elizabeth kecil yang pintar dan cerdas menangkap itu sudah menjadi pewaris dinasti Tudor di masa depan dan sangat dinanti-nanti.
Namun, untuk menghindari fakta yang akan membuat Henry VIII kecewa berat adalah menipunya.
Ashley awalnya mencari gadis desa yang mirip dengan Elizabeth, namun tak ada yang seumuran sang putri. Akhirnya ada seorang bocah laki-laki bernama Neville yang seumuran dengan Elizabeth.
Ketika Henry VIII menemui anaknya, dia tak merasakan perubahan apapun. Sebab, Raja Henry VIII sangat jarang bertemu dengan putri pewaris tahta itu.
Putri Elizabeth yang dikenal lembut, rajin, dan pemalu ini aslinya tidak pernah bicara di depan ayahnya.
Tetapi, Neville berbeda dengan sang putri. Dia juga lebih lambat dalam menerima pelajaran, terbalik dengan karakter putri.
Putri Elizabeth kecil, konon dikuburkan di dalam peti batu bawah istana. Pengasuh dan pengawal pun mengajarkan Neville cara untuk menjadi putri raja yang baik.
Menjadi Ratu
Steve Berry memiliki keyakinan, jika Ratu Elizabeth pernah jujur pada kepala rumah tangga istana William Cecil, yang dikenal kemampuan meramalnya.
Elizabeth menyuruh Cecil agar rencana pernikahannya dengan pangeran dari sebuah negeri digagalkan, sebab akan menghancurkan segalanya.
Selain Steve, Bram Stoker juga menceritakan kisah anak laki-laki ini dalam "Imposter".
Stroker selalu mendengar desas-desus cerita turun temurun soal kerangka gadis cilik dalam sebuah peti mati yang ditemukan di Bisley pada awal 1800-an. Gadis itu menggunakan baju ala dinasti Tudor dan terdapat permata yang dijahit pada gaunnya.
Dalam bukunya itu, Stoker memiliki keyakinan alasan "The Virgin Queen" itu tidak mau menikah. Bahkan Elizabeth bersumpah tidak akan pernah menikah, meski seorang Kaisar di Spanol menyodorkan putranya. Karena Elizabeth adalah Neville, seorang laki-laki.
Penolakan Elizabeth soal pernikahannya itu memicu Spanyol untuk menyerbu kerajaan Inggris. Saat itu, Elizabeth dikenal dengan ucapannya yang mengatakan "Aku punya jiwa seorang pria, bukan wanita. Dan aku tak takut pada apapun".
Keyakinan Steve Berry bertambah. Dia melihat karya lukisan William Scrots yang melukis Elizabeth kecil dengan bahu yang ramping, leher halus, wajah berbentuk hati, alis, dan rambut berwarna jahe.
Gadis kecil itu berbeda dengan potret Elizabeth yang telah menjadi ratu. Bahunya lebar, lehernya disembunyikan dalam kerah yang tinggi. Dia juga selalu menggunakan wig, alisnya gundul, rahang tegas dan wajahnya berbentuk persegi.
Bahkan, Elizabeth tak mengizinkan seorang pun melihat kondisinya yang polos tanpa make up dan wig.
Ratusan tahun lalu, keluarga Tudor juga sudah mengendus rahasia besar sang ratu.
Kabarnya hingga kini kuburan Elizabeth I tak pernah dibuka.