Sepanjang 2019, Eko sukses meraih berbagai prestasi. Antara lain medali emas Piala Dunia, medali perunggu Kejuaraan Asia, perak Kejuaraan Dunia, serta medali emas SEA Games.
Hasil itu membuat posisi Eko di klasemen raihan poin kualifikasi di kelas 61 kg Olimpiade 2020 semakin mantap. Kini, dia menduduki peringkat kedua dengan raihan 4,162.7503 poin.
4. Windy Cantika Aisah
![Lifter Indonesia Windy Cantika Aisah meraih medali emas cabang olahraga angkat besi SEA Games 2019 kelas 49 kg putri, Senin (2/12). [Dok. KOI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/12/02/26770-lifter-windy-cantika-aisah.jpg)
Selain Eko Yuli Irawan, cabang olahraga angkat besi Indonesia juga memiliki satu lifter dengan prestasi mentereng sepanjang 2019.
Lifter tersebut adalah Windy Cantika Aisah yang saat ini berusia 17 tahun. Kendati masih berada di level remaja, presatsi yang ditorehkannya tidaklah sembarang.
Windy merupakan peraih medali emas SEA Games 2019 di nomor 49 kg putri. Tak hanya merebut podium tertinggi, dirinya juga sukses mempertajam tiga rekor dunia atas namanya sendiri.
Atlet yang merupakan putri dari Siti Aisah, lifter peraih perunggu Kejuaraan Dunia Angkat Besi 1988 itu meraih podium tertinggi di Filipina setelah mencatatkan angkatan seberat 190 kilogram.
Total angkatan itu merupakan rincian dari 86 kilogram sntach, dan 104 kilogram clean and jerk.
Angkatan sntach miliknya sukses melampaui rekor dunia yang diraihnya pada Kejuaraan Asia Junior dan Remaja 2019 di Pyongyang, Korea Utara, Oktober lalu. Saat itu Windy mencatatkan snatch 84 kilogram.
Dari angkatan clean and jerk, Windy lagi-lagi melampaui rekornya sendiri yakni 102 kilogram saat mengikuti kejuaraan yang sama di Pyongyang.
Raihan tersebut secara otomatis membuatnya juga melampaui rekor dunia pada total angkatan. Angkatan 190 kilogram melewati rekor sebelumnya yang lagi-lagi atas namanya sendiri yakni 186 kilogram.
![Pelari Indonesia Fadlin (kanan) menyerahkan tongkat kepada Lalu Muhammad Zohri (tengah) pada babak penyisihan Atletik nomor estafet 4x100m putra Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). [Antara/INASGOC/Andika Wahyu]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2018/08/30/86169-lalu-muhammad-zohri.jpg)
Lalu Muhammad Zohri membuktikan diri bahwa dirinya bukanlah sprinter one hit wonder atau hanya berprestasi sesaat kemudian menghilang ke antah berantah.
Atlet yang dijuluki Bocah Ajaib dari Lombok itu mampu menjaga performa dan bahkan meningkatkannya sepanjang 2019.
Tercatat, Zohri meraih medali emas 1st Malaysia Open Grand Prix, perak Kejuaraan Atletik Asia, dan perunggu di Seiko Golden Grand Prix Osaka.
Di sela-sela raihan prestasi itu, Zohri juga berhasil memecahkan beberapa rekor di nomor lari 100 meter putra.
Saat meraih medali perak Kejuaraan Atletik Asia 2019, Zohri memecahkan rekor nasional sekaligus menjadi manusia tercepat se-Asia Tenggara.
Catatan waktu 10,13 detik yang dibukukannya berhasil melampaui rekor seniornya, Suryo Agung Wibowo, yang terkenal sebagai manusia tercepat se-Asia Tenggara sejak 2009.
Sebelum dipecahkan Zohri, rekornas yang selama ini digenggam Suryo Agung adalah 10,17 detik. Catatan waktu itu tercipta saat sang sprinter berlaga di SEA Games 2009 di Laos.
Zohri kemudian mempertajam rekornya di nomor 100 meter putra. Saat mengikuti Seiko Golden Grand Prix Osaka, pemuda kelahiran Lombok Utara itu mencatatkan waktu 10,03 detik.
Hasil tersebut tak hanya membuatnya diganjar medali perunggu. Namun, dia juga sukses memecahkan rekornas atas namanya sendiri yakni 10,13 detik.
Disamping itu, catatan waktu 10,03 detik juga membuat peraih medali emas Kejuaran Dunia Atletik U-20 2018 tersebut berhak lolos otomatis ke Olimpiade 2020 Tokyo.
Catatan waktunya dipastikan telah menembus limit multievent terbesar dunia nomor lari 100 meter putra, yakni 10.05 detik.