alexametrics

Dibandingkan dengan Muhammad Ali, Reaksi Khabib Patut Diacungi Jempol

Syaiful Rachman | Arief Apriadi
Dibandingkan dengan Muhammad Ali, Reaksi Khabib Patut Diacungi Jempol
Petinju Amerika Serikat, Muhammad Ali (kanan), saat bertarung melawan petinju kelas berat Inggris, Brian London, di Earls Court Arena, London pada 6 Agustus 1966. [AFP]

Muhammad Ali merupakan legenda tinju dunia.

Suara.com - Bintang UFC, Khabib Nurmagomedov merendah saat dibandingkan dengan legenda tinju dunia, Muhammad Ali. Dia mengaku tak pantas disamakan dengan sosok legendaris sehebat Ali.

Khabib merupakan petarung UFC penyandang gelar juara dunia kelas ringan. Saat ini, dia memiliki rekor cemerlang yakni 28 kemenangan tanpa kekalahan sekalipun.

Di samping hebat di atas ring, Khabib juga terkenal sebagai petarung penganut agama Islam. Hal itu turut menjadi faktor mengapa dia disamakan dengan Muhammad Ali.

Ketika ditanya tentang perbandingan dengan petinju berjuluk The Greatest, Khabib Nurmagomedov memilih bersikap merendah, sebagaimana diberitakan Sport Bible.

Baca Juga: Roy Jones Jr Sedikit Menyesal Terima Tawaran Duel Lawan Mike Tyson, Kenapa?

Atlet tarung bebas UFC, Khabib Nurmagomedov. [AFP/Kirill Kudryavtsev]
Atlet tarung bebas UFC, Khabib Nurmagomedov. [AFP/Kirill Kudryavtsev]

"Saya pikir membandingkan Ali dan saya mungkin salah. (Mungkin benar--Red) hanya jika kita berbicara tentang fakta bahwa kita sama-sama juara dan sama-sama Muslim," kata Khabib dikutip dari Sport Bible, Kamis (17/9/2020).

"Tapi semua hal yang dia lakukan di luar ring, dengan ini (segala prestasinya--Red) memang tidak bisa dibandingkan," tambahnya.

Menurut Khabib, perjuangan Muhammad Ali menggapai kesuksesan jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Sebagai warga kulit hitam, Ali yang telah wafat pada 2016, harus berjuang melawan rasisme di samping lawan-lawannya di atas ring.

"Pada saat dia menjadi juara, dia adalah ras lain (orang kulit hitam). Pada saat itu di Amerika, orang kulit hitam diperlakukan dengan buruk," kata Khabib.

Petinju legendaris dunia Muhammad Ali (kiri) melawan juara dunia kelas berat WBA dan WBC, George Foreman, di Stade du 20 Mai, Kinshasa, Zaire pada 29 Oktober 1974. [AFP]
Petinju legendaris dunia Muhammad Ali (kiri) melawan juara dunia kelas berat WBA dan WBC, George Foreman, di Stade du 20 Mai, Kinshasa, Zaire pada 29 Oktober 1974. [AFP]

"Menurut ceritanya, dia bahkan tidak dilayani saat ingin makan di restoran."

Baca Juga: Conor McGregor Ditahan karena Tuduhan Pelecehan Seksual

"Dia membuang medali emas. Dia sangat mengubah sikapnya terhadap perbedaan ras. Jadi kami tidak bisa dibandingkan," tandas Khabib.

Komentar