Sukabumi.suara.com - Setelah kerusuhan melanda beberapa wilayah di Pakistan, mantan perdana menteri Pakistan Imran Khan pun muncul di pengadilan khusus di markas militer di Islamabad, Rabu (10/5/2023) atau satu hari setelah ia ditangkap atas tuduhan korupsi.
Media lokal yang mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa jaksa telah meminta agar Khan ditahan selama 14 hari.
Penahanan Imran Khan pada Selasa membuat Pakistan jatuh pada krisis politik baru.
Bahkan, Imran Khan berani menegur militer dengan menuduh seorang perwira senior telah terlibat dalam komplotan untuk membunuhnya.
Dilansir dari France24.com, politisi Pakistan sering ditangkap dan dipenjara sejak negara ini berdiri pada 1947, namun sedikit yang secara langsung menantang militer yang setidaknya sudah melakukan tiga kudeta dan telah memerintah selama lebih dari 30 tahun.
Pendukung Imran Khan yang marah politisi itu ditangkap melampiaskan kekecewaannya pada militer dengan membakar kediaman komandan militer di Lahore dan mengepung pintu masuk markas besar tentara di kota Rawalpindi.
"Pada saat kami sudah berjuang untuk memberi makan anak-anak kami, ketidakpastian berikutnya sudah muncul," tutur Farooq Bhatti, seorang sopir mengatakan kepada AFP di Rawalpandi pada Rabu pagi.
Pihak berwenang telah memerintahkan menutup sekolah di seluruh Pakistan dan membatasi warga ke platform media sosial seperti Twitter dan Facebook.
Polisi dan pendukung Imran Khan telah mengalami bentrokan dan media lokal melaporkan dua orang meninggal dunia akibat kerusuhan.
Imran Khan menghadapi lusinan dakwaan setelah ia digulingkan pada April 2023, menurut para analis taktik.