“Najis banget anjir.” Di belakangnya Via menoyor kepala Divya. “Ngapa sih lo, centil banget akhir-akhir ini?” tanyanya.
“Ya dia kan mau caper sama si Renaldi,” timpal Sella. “Tau-tau udah punya gadis aja mampus.”
“Ngomongnya filter dulu ya tolong. Ucapan itu doa,” ujar Divya.
“Gue suka ngomong sana-sini dan ngaku-ngaku punya pacar tapi kenapa sampai sekarang nggak ada?” tanya Salsa. “Katanya omongan doa.”
Divya menoleh dengan mata memutar malas. “Nggak gitu konsepnya ege.” Dia mendengkus lalu meletakkan cerminannya saat Guru BK berbicara untuk pamit karena jam sudah selesai.
“Kantin yuk!" ajak Sella. “Laper banget dari kemarin cuma makan harapan doang.”
Mereka berempat pergi keluar kelas menuju kantin. Divya menggeser tubuhnya saat beberapa orang berdesak-desakan di tangga antara MIPA dan IPS. Divya bahkan mundur saat segerombolan laki-laki menyenggolnya hingga tubuhnya hampir terjatuh.
“Anj ….”
“Eh, eh, eh.” Seseorang menarik tangan Divya dan menahan tubuhnya. Dia meringis begitu kakinya diinjak oleh Divya.
Baca Juga: Puisi Bermakna Kekaguman dan Harapan
“Eh—sorry, gue gak sengaja.” Divya mundur hingga tangga yang bawah. Dia menoleh pada sosok laki-laki yang menariknya tadi.
Renaldi mendongak, dia melepaskan tangannya dan membungkuk untuk mengelap sepatunya yang kotor. Divya masih mematung di tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Orang-orang yang berlalu-lalang di depannya seolah tidak ada. Tatapan Divya benar-benar terpaku pada laki-laki yang tingginya hanya berbeda sedikit dengannya itu. Dia secara tidak sadar mengigit bibirnya saat Renaldi menegakkan tubuhnya dan sedikit lebih dekat dengan gadis itu.
Aroma vanila yang kuat menusuk indra penciuman Divya. “Lo nggak apa-apa?” tanya Divya.
Renaldi menaikan sebelah alisnya bingung. Dia memalingkan kepalanya ke kanan dan mendengkus geli.
“Harusnya gue yang nanya. Lo gak apa-apa?” Renaldi menyisir rambutnya kebelakang.