sukabumi

Cerita Pendek Bersambung Karya Siswa SMA

Sukabumi Suara.Com
Sabtu, 29 Juli 2023 | 15:23 WIB
Cerita Pendek Bersambung Karya Siswa SMA
Judul cerpen ((dok.Panduwindu))

Kita, Cinta dan Masa Muda

Menata masa depan di kelas 12 memang sangat penting. Persiapan ujian tulis, praktek atau bahkan persiapan masuk perguruan tinggi. Bagi beberapa orang, hanya itu yang harus dipersiapkan di kelas 12, tetapi bagi Divya Renata masa depannya dengan Renaldi Kamran juga salah satu yang harus dipersiapkan.

Kata Guru BK, pilihan setelah lulus sekolah itu ada tiga: kuliah, kerja atau nikah. Jika Divya gagal kuliah, dia akan kerja. Namun jika dirinya gagal kerja, maka pilihan terakhirnya dia akan menikah. Dan berharap Renaldi akan menjadi calonnya.

Hari Senin ini Guru BK membagikan angket untuk diisi. Mereka harus mengisi apa yang akan mereka lakukan setelah kuliah dan apa saja planning-planning yang sudah anak kelas 12 siapkan.

“Kira-kira si Ree mau ambil jurusan apa, ya? Terus kuliahnya di mana?” tanya Divya pada teman sebangkunya. Dia mengetuk-ngetuk pulpen ke kepalanya.

“Mana gue tau, emang gue Maknya si Renaldi apa?” dengkus Salsa.

“Ya dia anak IPS ege, pasti berbau soshum. Gitu aja pake nanya,” celetuk Via. Dia duduk di belakang Divya dan Salsa yang sebangku. “Mau lo satu kampus bahkan satu jurusan sama dia?”

Divya menolehkan kepalanya dan mengangguk yakin. “Mau, dong! Makannya gue nanya,” balasnya.

“Alay, belum aja jadian sok-sokan lo,” cetus Sella. “Sayang lagian tiga tahun temenan sama Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, malah selingkuh.”

Baca Juga: Puisi Bermakna Kekaguman dan Harapan

Teman-temannya tahu bahwa Divya menyukai laki-laki bernama Renaldi Kamran, kelas 12 IPS 4 yang ruang kelasnya ada di sebelah kelas mereka, 12 MIPA 1. Entah bagaimana Divya menyukai laki-laki itu.

Angket akhirnya dikumpulkan oleh ketua kelas. Divya buru-buru mengisi angketnya setelah itu diserahkan kepada ketua kelasnya.

“Jangan ngintip-ngintip lo!” larang Divya.

“PD banget anjir. Kertas lo nih, ke lipet,” ujar sang ketua kelas.

Divya merapikan alat tulisnya. Gadis itu meraih cermin kecil yang dia bawa. Dia menatap penampilannya dan merapikan rambutnya yang dijepit oleh jepitan bermotif Hello Kitty.

Mata Divya kecil dan dia suka dengan matanya. Bulu mata gadis itu juga lentik, dia mengerjapkan matanya beberapa kali, bertingkah sok imut.

“Najis banget anjir.” Di belakangnya Via menoyor kepala Divya. “Ngapa sih lo, centil banget akhir-akhir ini?” tanyanya.

“Ya dia kan mau caper sama si Renaldi,” timpal Sella. “Tau-tau udah punya gadis aja mampus.”

“Ngomongnya filter dulu ya tolong. Ucapan itu doa,” ujar Divya.

“Gue suka ngomong sana-sini dan ngaku-ngaku punya pacar tapi kenapa sampai sekarang nggak ada?” tanya Salsa. “Katanya omongan doa.”

Divya menoleh dengan mata memutar malas. “Nggak gitu konsepnya ege.” Dia mendengkus lalu meletakkan cerminannya saat Guru BK berbicara untuk pamit karena jam sudah selesai.

“Kantin yuk!" ajak Sella. “Laper banget dari kemarin cuma makan harapan doang.”

Mereka berempat pergi keluar kelas menuju kantin. Divya menggeser tubuhnya saat beberapa orang berdesak-desakan di tangga antara MIPA dan IPS. Divya bahkan mundur saat segerombolan laki-laki menyenggolnya hingga tubuhnya hampir terjatuh.

“Anj ….”

“Eh, eh, eh.” Seseorang menarik tangan Divya dan menahan tubuhnya. Dia meringis begitu kakinya diinjak oleh Divya.

“Eh—sorry, gue gak sengaja.” Divya mundur hingga tangga yang bawah. Dia menoleh pada sosok laki-laki yang menariknya tadi.

Renaldi mendongak, dia melepaskan tangannya dan membungkuk untuk mengelap sepatunya yang kotor. Divya masih mematung di tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Orang-orang yang berlalu-lalang di depannya seolah tidak ada. Tatapan Divya benar-benar terpaku pada laki-laki yang tingginya hanya berbeda sedikit dengannya itu. Dia secara tidak sadar mengigit bibirnya saat Renaldi menegakkan tubuhnya dan sedikit lebih dekat dengan gadis itu.

Aroma vanila yang kuat menusuk indra penciuman Divya. “Lo nggak apa-apa?” tanya Divya.

Renaldi menaikan sebelah alisnya bingung. Dia memalingkan kepalanya ke kanan dan mendengkus geli.

“Harusnya gue yang nanya. Lo gak apa-apa?” Renaldi menyisir rambutnya kebelakang.

Belum sempat Divya menjawab, teman-temannya sudah datang dengan heboh begitu sadar Divya tidak ada bersama mereka.

“Woi lo ke man ….” Via menahan ucapannya saat sadar sosok Renaldi berdiri di depan Divya. Gadis itu memukul pinggul Sella yang di sebelahnya.

“Gue duluan,” ujar Renaldi lalu pergi begitu saja. “Gila,” celetuk Salsa. “Lo abis ….”

“AAAAAAAAAA!! GUE DI PEGANG SAMA RENALDI!”

****

Jam pulang sekolah sekarang lebih lama. Ketika tahun kemarin 15.40, tahun sekarang tepat pukul 16.00. Divya sudah menggeliat tidak nyaman di kursinya. Bel pulang masih satu jam lagi. Ponselnya mati dan sedang di isi daya di pojok kelas.

Guru Bahasa Indonesia tidak masuk. Beberapa anak ada yang tidur, bermain game,

bermain ponsel, belajar, atau duduk-duduk di depan kelas.

Divya melirik teman-temannya yang sibuk sendiri. Salsa yang tidur serta Sella dan Via yang bermain tiktok. Gadis itu menghela napas, rasa bosan mulai menghampirinya.

Gadis itu berdiri, dia berjalan ke bangku temannya, Ezra. “Ez,” panggil Divya. “Zra.”

Tidak ada sahutan. Laki-laki itu memakai earphone dengan posisi HP yang miring.

“Ezra budek!” Dengan kesal Divya menarik earphone-nya hingga sang empu melirik

kesal.


 

“Apaan, sih?” tanya Ezra.

“Lo lagi apa? Mabar sama Ree?” tanya Divya.

Beberapa orang memang tahu bahwa Divya menyukai laki-laki dari ekskul voli itu.

Mungkin karena sikapnya yang selalu heboh ketika Renaldi melintas di depan kelasnya. “Bukan.” Ezra melepaskan kedua earphone-nya. “Orang kelas sebelah ada Guru.”

Divya memanyunkan bibirnya. “Gimana info yang gue minta? Dia udah ada pacar belum?” tanya Divya.

Ezra memang satu ekskul dengan Renaldi. Keduanya juga cukup dekat dan sering main bersama. Karena mereka cukup dekat, Divya sering mencari-cari informasi tentang laki-laki yang dia sukai kurang lebih sudah dua Minggu itu.

“Gak tau, gak cerita,” sahut Ezra. “Ya tanyalah blok,” kesal Divya.

“Tanya aja sendiri. Nomornya udah gue kasih, kan?” balas Ezra.

“Gimana chat-nya? Tanya, ‘sayang lagi apa?’ atau ‘udah makan belum cinta ku?’ boleh, gak?” celoteh Divya hiperbola.

Ezra menoleh malas. “Pikir aja sendiri. Lo pikir dia nggak bakalan risih?”

Benar juga. Jika Divya terlalu terburu-buru, bisa-bisa laki-laki itu ilfeel dan menjauh.

Jika laki-laki itu menjauh, Divya semakin sulit mendekatinya. “Iya sih,” gumam Divya.

Ezra kembali bermain game. Divya menoleh pada teman sedari SMP-nya itu sinis. Ezra memang sering membantunya, tetapi tidak urung kadang laki-laki itu menolaknya atau menyuruh Divya melakukan hal itu sendiri.

Seperti tadi, Divya ingin tahu apakah Renaldi sudah punya pacar atau belum, Ezra menyuruhnya untuk bertanya sendiri secara langsung.

Andaikan Ezra tau, jangankan Divya chat, untuk menamai kontak laki-laki itu saja Divya berpikir semalaman. Dia berpikir apa nama yang cocok tapi tidak terkesan alay.

****

“Zra, dicariin anak sebelah!”

Divya berdecak saat dia kalah bermain game. Guru Fisika hari ini tidak masuk karena cuti hamil. Mereka diberikan tugas oleh Guru Piket dan harus dikumpulkan hari ini. Karena tugasnya mudah, Divya sudah selesai mengerjakannya dan sekarang dia bisa bersantai-santai. “I itu lambang apaan, sih?” Sella menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Di

sela jari telunjuk dan tengahnya terselip pulpen. “Inersia?” celetuk Salsa.

“Kita udah kelas 12 kagak belajar inersia lagi bloon,” tukas Via menimpali. “I itu kuat arus listrik. Nih, ini rumusnya.”

Dilihat dari mimik wajahnya Sella seperti enggan menjawab soal-soal itu. Dia berdiri, melirik jendela guna melihat apakah ada orang, maksudnya Renaldi, atau tidak.

Divya melihat Ezra yang tengah mengobrol dengan salah satu teman Renaldi. Namanya Fahri. Mereka satu ekskul juga, sama-sama voli. Laki-laki itu tertawa, tidak tahu membicarakan apa.

Karena dia duduk di bangku ke 3 dekat pintu. Gadis itu bergeser duduk di meja temannya untuk mendengar pembicaraan mereka. Gadis itu membuka jendela. Untung saja Ezra berdiri agak jauh, jika tidak kepalanya akan terbentur.

“Ih,” decak Ezra.

“Lagi pada ngomongin apa?” tanya Divya.

“Kepo lo, Cil.” Ezra menoyor kepala Divya, dia memegang ujung jendela dengan tangan kirinya agar tetap terbuka. Punggungnya bersandar pada tembok.

“Lo yang suka sama Renaldi?” tanya Fahri. Laki-laki itu menyisir rambutnya. “Mau gue panggilin, nggak? Dia ada di kelas tuh, kalau mau gue suruh ke sini.”

Kedua pipi Divya memanas. Dia malu setengah mati. Matanya melirik Ezra tajam.

Namun yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

“Satpam aja bisa tau kalau lo suka sama Renaldi,” cetus Ezra. “Iya, kan, Ri?” tanyanya pada Fahri.

Laki-laki berkulit putih dengan gigi gingsul itu mengangguk. “Keliatan. Suka motoin dia diem-diem pas ekskul ….”

“Stop! Jangan diterusin!” tukas Divya. Ternyata sudah banyak orang yang tahu soal

ini.

Fahri terkekeh, di berjinjit dan melihat Sella yang tengah menulis dan kebetulan

duduk si pojok.

“Ada tugas?” tanya Fahri.

“Ada, Fisika,” jawab Divya.

Fahri mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengulum senyum. “Dah gitu aja ya, Zra. Gue ke kelas dulu. Bye!” pamitnya.

Ezra mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Divya yang menyimpan kedua pipinya di atas lipatan tangan pada kusen jendela. Gadis itu memperhatikan Fahri yang masuk ke dalam kelasnya.

“Dia kemungkinan udah tau soal perasaan lo,” celetuk Ezra. “Sok-sokan mau jadi pengagum rahasia tapi gerak-gerik lo brutal dan ke baca banget.”

“Gimana ya, gue gak bisa kalau diem-diem,” balas Divya.

“Kalau lo gak bisa diem jangan berharap bakalan jadi pengagum rahasia abadi,” ujar Ezra sambil menegakkan tubuhnya dengan posisi tangan yang sama.

“Maksud lo?” tanya Divya.

“Siap-siap aja kalau Renaldi tau.”

****

Divya suka menyanyi. Dari SMP dia mengikuti ekstrakurikuler Paduan Suara. Gadis itu sangat aktif di ekskul tersebut. Hari ini, tepatnya hari Kamis, Divya pergi ke ruang musik setelah pulang sekolah. Beberapa ada kelasnya menyapa Divya.

“Tumbenan cepet?” tanya Erina. Dia adalah ketua ekstrakurikuler Paduan Suara.

Gadis itu berasal dari kelas yang sama dengan Renaldi.

Divya melepas tasnya. Dia duduk di samping Erina. “Guru matpel banyak yang nggak masuk. Jadi gue ke sini cepet, di kelas juga ngapain,” jelas Divya.

Beberapa anak ekskul sudah masuk. Divya memperhatikan adik kelasnya satu per satu. Anak yang ikut ekskul ini cukup sedikit.

Divya menoleh pada Erina yang sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin gadis itu keluar. Divya ikut berdiri untuk pergi keluar ruangan, mencari Erina.

“Jadi lo mau gabung?” tanya Erina pada Renaldi.

“Iya, masih bisa, nggak?” Renaldi menggaruk alisnya bingung. “Udah telat, ya?” “Nggak telat, kok!”

Seseorang datang menghampiri mereka. Divya menatap Renaldi dengan senyum merekah.

“Lo mau gabung, padusa, kan?” tanya Divya. “Udah kelas 12 nggak usah isi formulir.

Tinggal lapor ke gue aja, soalnya gue sekretarisnya.”

“Iya, kan, Rin?” Divya menyenggol lengan Erina dan memberi kode agar gadis itu mengangguk.

“Bener. Daftar ke dia aja,” cetus Erina. “Agak telat sih, tapi aman.”

Renaldi mengangguk lalu melirik Divya. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dan berkata, “Minta nomor HP lo.”

“B … buat apa?” tanya Divya dengan gugup setengah mati.

“Masukin grup emang nggak butuh nomor gue, ya?” balas Renaldi polos.

“Butuh!” Divya langsung mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomornya. Gadis itu menamai kontaknya dan tanpa dia sengaja ada sebuah notifikasi masuk.

Elea : Laperrr:(((

Elea : Sebelum pulang makan dulu yuk

Karya: M. Adelia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI