Suara Sumatera - Bulan Agustus dikenal sebagai bulan merayakan Kemerdekaan RI. Memasuki bulan Agustus, seperti saat ini sejumlah tradisi biasa digelar wong Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
Tradisi yang hanya ada di bulan Agusttus ini tampaknya masih terwariskan saat ini. Setidaknya ada 4 tradisi yang dilakukan wong Palembang saat merayakan HUT Proklamasi 17 Agustus.
Sejumlah tradisi ini hadir sekaligus menghibur masyarakat di Palembang. Tidak puas rasanya jika berada di Palembang, tidak menikmati tradisi masyarakat Palembang ini turun temurun.
Jika biasanya tradisi bulan proklamasi hanya diisi dengan mengibarkan bendera merah putih, namun tidak demikian dengan wong Palembang, Sumsel.
Berikut 4 tradisi wong Palembang yang hadir hanya di bulan Agustus seperti saat ini.
1. Berburu telok abang
Tradisi ini ialah tradisi yang berhubungan dengan kuliner. Di Palembang terdapat kuliner yang memang hadir di setiap bulan Agustus, yakni permainan telok abang.
Sebenarnya telok abang ialah mainan yang berasal dari gabus yang dibentuk kapal atau kapal terbang yang kemudian dilengkapi dengan telur ayam atau telur bebek yang direbus lalu diberi pewarna merah.
Telok abang biasanya dijual berdekatan dengan penjual bendera merah putih yang banyak muncul di jalanan saat bulan agustus ini.
Untuk harga telok abang dengan bentuk kapal atau pesawat terbang, harganya bervariasi, tergantung dengan bentuk dan ornamen pelengkapnya.
2. Nonton perahu bidar dan perahu hias
Perayaan HUT proklamasi lainnya yang menjadi tradisi wong Palembang ialah festival perahu bidar atau perahu hias. Kegiatan yang dipusatkan di Sungai Musi Palembang itu akan selalu ramai ditonton masyarakat.
Perahu bidar atau perahu hias biasanya muncul setelah setiap tanggal 17 Agustus. Pelaksaan lomba atau festival perahu bidar dan perahu hias digelar di pekan ketiga Agustus.
Lomba perahu bidar ialah lomba yang digelar di Sungai Musi dengan adu kecepatan antar perahu. Adu keceapatan mengarungi derasnnya sungai musi yang mengalir dari hulu dan ilir kota Palembang.
Selain perahu bidar juga ada lomba perahu hias.
Festival perahu hias biasanya memperlombakan perahu yang dihias dengan sedemikian rupa. Tema perahu hias, biasanya beragam dan sesuai dengan kreativitas lembaga atau pembuatnya.
3. Lomba Panjat Pinang
Wong Palembang juga mengidentikan diri menggelar lomba panjat pinang di banyak tempat saat HUT Proklamasi. Mungkin hampir di seluruh lingkungan RW, atau kelurahan di Palembang biasanya terdapat masyarakat yang menggelar lomba panjat pinang.
Lomba ini berlangsung biasanya bersamaan pada hari proklamasi, 17 Agustus. Pelaksanaan lomba biasanya digelar pada siang menuju sore hari.
Pelaksanaan lomba panjat pinang biasanya juga diiringi dengan keseruan dan hadiah yang menggiurkan.
Masyaarakat Palembang malah mengenal sejarah panjat pinang sejak lama. Ada yang menyebutkan jika sejarah panjat pinang merekam perjalanan pahit masyarakat dijajah oleh Belanda.
4. Pawai Budaya Jalanan
Selain tiga tradisi di atas, salah satu yang tradisi yang sekarang terasa makin ditinggalkan ialah pawai jalanan. Semacam pawai yang digelar oleh instansi pemerintah, dengan melibatkan pelajar atau anak-anak dengan busana daerah yang menarik.
Pawai jalanan ini biasanya berlangsung di jalan protokol Palembang. Kekinian, pawai HUT proklamasi juga pernah dilengkapi dengan aksi pengibaran bendera terbanyak.
Sayangnya sejak pandemi COVID-19, pawai jalanan kerap dimajukan dengan perayaan HUT kota Palembang menjadi agenda bersama.
Ini lah 4 tradisi wong Palembang yang biasanya hanya ada saat di bulan Agustus selain mengibarkan bendera merah putih.