‘Kami kira, apartemen tidak akan menggerus usaha kos-kosan, ternyata dugaan itu salah,” kata Nanang.
Setelah ada apartemen, sebagian mahasiswa dari keluarga berada, mulai melirik apartemen, terutama yang berdiri agak jauh dari kampus.
Nanang mengetahai itu karena ada mahasiswa yang semula tinggal di kos-kosan miliknya, diketahui pindah ke sebuah apartemen.
Berdasarkan catatan Rudi, tokoh masyarakat Jatinangor, mahasiswa yang tinggal di apartemen, sebenarnya tidak terlalu banyak.
“Dari sekira 10.000 mahasiswa, barangkali yang milih tinggal di apartemen hanya sekitar 500 mahasiswa saja,” kata dia.
Namun demikian, keberadaan apartemen tersebut, memang cukup berpengaruh kepada usaha kos-kosan di Jatinangor.
Pandemi Covid-19
Sudah jatuh tertimpa tangga. Demikian barangkali usaha kosan-kosan di Jatinangor tersebut, belakangan ini.
Betapa tidak. Setelah konsumennya ‘dicuri” sejumlah apartemen yang menawarkan harga murah dan system sewa juga, kos-kosan mereka ditinggalkan para mahasiswa.
Itu terjadi kurang lebih dua tahun lalu, setelah muncul pandemi Covid-19.
“Awalnya beberapa masiswa bertahan di kos-kosan ketika Covid-19 pertama kali muncul dengan harapan, pandemi berakhir,” kata Ismet.
Namun, setelah badai Covid-19 berkepanjangan, para mahasiswa satu-persatu pulang ke daerahnya masing-masing.
“Akhirnya, sekarang, kos-kosan di Jatinangor boleh dibilang kosong dari mahasiwa. Itu terjadi sejak dua tahun lalu. Bayangkan!” kata Nanang.
Usaha kos-kosan di Jatinangor itu, pada akhirnya lumpuh total. Ini membuat sejumlah pengusaha kos-kosan sekarang banyak yang merencanakan akan menjual usahanya.
Aini sebenarnya berharap usaha kos-kosan di Jatinangor akan cerah lagi seperti dulu. Namun bila melihat “sinyal” yang ada, kata dia, kemungkinan cerah seperti dulu, tidak akan terjadi.