Diberhentikannya liga untuk sementara waktu pasca tragedi Kanjuruhan, Malang beberapa waktu lalu dimanfaatkan oleh beberapa klub untuk terus berbenah diri sambil mengisi kekosongan kegiatan mereka.
Hal yang tentunya sangat positif untuk klub dan bagi para pemain tentunya. Bagi pemain, hal ini bermanfaat untuk menjaga kondisi fisik dan kebugaran mereka selagi kompetisi masih belum berjalan.
Namun, terus menerus berlatih juga bisa membuat bosan para pemain. Untuk itu, ada beberapa pemain yang mengisi waktu kosong mereka dengan hal yang bermanfaat selain dengan berlatih seperti yang dilakukan pemain Bali United Muhammad Ridho dan Rahmat.
Jika sebelumnya, ada Nadeo Arga Winata dan Irfan Jaya yang mengisi waktu luang mereka dengan memainkan karakternya sendiri dalam game konsol 'efootball', Muhammad Ridho dan Rahmat mengisi waktu kosongnya dengan bertemu salah satu komunitas suporter tim berjuluk Serdadu Tridatu itu yakni Blind Semeton Dewata. Mereka adalah penyandang disabilitas tuna netra atau yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan.
Komunitas yang dibentuk untuk mewadahi mereka yang berkekurangan dalam penglihatan ini melakukan olahraga pagi di Training Center Bali United, Pantai Purnama, Gianyar. Mereka bermain bola di lapangan yang selama ini digunakan oleh Bali United Youth melakoni latihan.
Kehadiran dua pemain Bali United pada pagi hari tadi tentu menjadi penyemangat dan hiburan untuk Komunitas Blind Semeton Dewata. Rahmat dan Ridho juga turut memberikan materi dasar bermain bola kepada mereka yang memakai bola khusus berisi suara nyaring dari dalam bola.
“Saya sangat senang melihat antusias dari komunitas Blind Semeton Dewata dalam memberikan dukungan terhadap tim Bali United. Meskipun kita bisa melihat mereka memiliki keterbatasan fisik terutama di penglihatan. Namun mereka memiliki semangat yang luar biasa. Menurut saya pribadi, ini sangat menyentuh buat saya,” ungkap Rahmat dikutip laman resmi klub, Sabtu (29/10/2022).
Keceriaan terus terpancar selama satu jam bersama di lapangan berhias pemandangan pinggir pantai ini. Bahkan Pande Putu Rifan yang sekaligus menjadi ketua dari komunitas ini memberikan tantangan kepada dua pemain Bali United untuk melakukan tendangan penalti dengan mata tertutup. Kesulitan dan bahkan gagal melakukan tendangan dirasakan oleh Rahmat dan Ridho yang memberikan keceriaan kepada para anggota komunitas ini.
“Saya juga sempat menerima tantangan dari mereka menendang penalti dengan mata tertutup dan saya merasa sangat kesulitan. Apalagi mereka yang setiap hari merasakan keterbatasan itu namun tetap memiliki jiwa yang bersemangat. Tentu ada pelajaran yang bisa kita peroleh dari mereka. Harapan saya mereka tetap bahagia bermain sepak bola dan terus mendukung tim Bali United. ,” imbuh Ridho.
Baca Juga: Bali United Datangkan Alat Bantu Kiper dari Inggris