Seperti diketahui, pada permulaan kasus “Polisi Tembak Polisi” yang mencuat, Putri Candrawathi, istri dari Irjen Ferdy Sambo yang sekarang menjadi tersangka dalam kasus terbunuhnya Brigadir J, membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan atas tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J. Namun kasus pelecehan seksual ini resmi dihentikan setelah polisi melakukan gelar perkara yang dipimpin Kabareskrim Komjen Agus Andrianto dikarenakan tidak ditemukannya unsur pidana sebagaimana yang dilakukan Putri.
Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar memberikan tanggapan bahwa tindakan pelaporan pelecehan seksual yang dihentikan ini dapat membuat Putri Candrawathi terkena proses pidana sebagai pelapor dikarenakan sudah membuat laporan palsu. "Penghentian jika karena tidak ada peristiwanya, maka harus dianggap tidak ada penyidikan. Jadi bukan SP3. Laporannya dapat dikualifikasi sebagai laporan palsu yang juga dapat diproses secara pidana," kata Fickar.
Menurut Fickar, Putri dapat terjerat Pasal 220 KUHP, yang berbunyi, barangsiapa yang memberitahukan atau mengadukan bahwa ada terjadi sesuatu perbuatan yang dapat dihukum, sedang ia tahu, bahwa perbuatan itu sebenarnya tidak ada, dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan. “Ya kalau kejadiannya tidak ada, artinya laporannya palsu, ya. ‘Obstruction of Justice’. Pasal pidananya Pasal 220 KUHP,” jelas Fickar.
![Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo [Suara]](https://media.suara.com/suara-partners/tangsel/thumbs/1200x675/2022/08/14/1-putri-candrawathi-istri-ferdy-sambo.webp)
Sebelumnya, pada Konferensi Pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (12/8/2022) malam, Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Andi Rian Djajadi juga sudah mengatakan bahwa laporan Putri Candrawathi adalah bukan peristiwa pidana, “Berdasarkan hasil gelar perkara tadi sore, kedua perkara ini kami hentikan penyidikannya, karena tidak ditemukan peristiwa pidana, bukan merupakan peristiwa pidana,”. Dua perkara yang dimaksud adalah laporan pelecehan seksual Brigadir J dan laporan percobaan pembunuhan Bharada E.
Andi juga menyebutkan, kedua laporan tersebut masuk dalam kategori sebagai upaya untuk menghalang-halangi penyidik dugaan pembunuhan berencana Brigadir J. Dengan sendirinya kedua laporan tersebut dinyatakan gugur. “Kami anggap dua laporan polisi ini menjadi satu bagian masuk dalam kategori “obstraction of juctice”, menjadi bagian dari upaya menghalangi-halangi pengungkapan dari pada kasus 340,”.