Sebelumnya, tim Italia mengidentifikasi adanya mikroplastik dalam plasenta manusia pada tahun 2020.
“Jadi bukti keberadaan mikroplastik dalam ASI meningkatkan kepedulian kami terhadap populasi bayi yang sangat rentan,” kata Notarstefano.
Ia menambahkan bahwa sangat penting untuk menilai cara mengurangi paparan kontaminan selama kehamilan dan menyusui. Tetapi harus ditekankan bahwa manfaat menyusui jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkan oleh mikroplastik yang mencemari.
"Studi seperti kami tidak boleh mengurangi pemberian ASI pada anak-anak, tetapi malah meningkatkan kesadaran publik untuk menekan politisi agar mempromosikan undang-undang yang mengurangi polusi," tegasnya.
Penelitian lainnya juga mengungkapkan bahwa bayi yang diberi susu botol cenderung menelan jutaan mikroplastik setiap harinya. Begitu juga penelitian pada susu sapi dapat mengandung mikroplastik.
Orang mengonsumsi partikel kecil melalui makanan dan air serta menghirupnya. Mikroplastik juga telah ditemukan di kotoran bayi dan orang dewasa.
Untuk diketahui, sejumlah besar sampah plastik dibuang ke lingkungan. Mereka berubah menjadi mikroplastik yang mencemari seluruh planet ini.
Bahkan plastik mencemari puncak gunung tertinggi di dunia, Everest, hingga lautan terdalam.