Ketua Yayasan Negeri Rempah Kumoratih Kushardjanto mengatakan Spice and Rice Festival merupakan inisiatif mandiri kolaborasi Yayasan Taut Seni dan Negeri Rempah.
“Kolaborasi tersebut berfokus pada pembelajaran publik untuk kebhinekaan Indonesia dengan entry poin jalur rempah,” terangnya.
Yayasan Taut Seni merupakan organisasi nirlaba yang spiritnya melestarikan aset budaya, tradisi, dan menjadikan seni sebagai sarana persahabatan. Sementara Yayasan Negeri Rempah adalah organisasi yang mendedikasikan visi dan misinya bagi peningkatan kesadaran masyarakat untuk belajar dan memperoleh pengetahuan tentang kebhinekaan Indonesia melalui kegiatan pendidikan dan kebudayaan.
Dalam Spice and Rice Festival lebih dari 20 komunitas menitipkan produknya di sejumlah tenant. Selebihnya ada 15 komunitas yang datang langsung ke Bali memamerkan produknya. Ada pula 12 food fair, termasuk jamuan negeri rempah dan hidangan negeri rempah dari 8 komunitas.
Presidensi G20 Indonesia 2022 menjadi momen bagi negara berkembang lain yang kaya resources rempah. Jalur rempah ini bisa jadi pintu masuk untuk bekerjasama.
“Jadi, ke depannya jalur rempah ini harus bisa menjadi salah satu rujukan diplomasi budaya yang menempatkan Indonesia ke posisi terhormat. Diplomasi kita itu diplomasi yang berdasarkan kehangatan, friendship, dengan rempah dengan beras. Harus bisa ke sana,” pungkas Ratih.
Side event G20 mengusung tema "Future SME's Village: Local Wisdom for Global Sustainability" melibatkan 300 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Acara yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) berkolaborasi dengan lebih dari 40 stakeholders yang terdiri dari kementerian/lembaga, badan usaha milik negara (BUMN), asosiasi, dan swasta.