Kelase, Sekolah dalam Genggaman Tangan

Liberty Jemadu | Suara.com

Selasa, 20 Januari 2015 | 15:22 WIB
Kelase, Sekolah dalam Genggaman Tangan
Aplikasi Kelase di toko aplikasi Android, Google Play (Screenshot Google Play, 20/1).

Suara.com - Sebagaimana ruang-ruang publik yang mulai hijrah ke dalam kamar-kamar di dunia maya, sekolah tempat anak-anak menuntut ilmu juga sudah mulai membuka kelas-kelas di internet.

Kesadaran akan fenomena ini menjadi latar belakang lahirnya Kelase, sebuah platform media sosial khusus untuk pendidikan.

Menyebut Kelase, yang lahir di pertengahan 2014, sebagai media sosial tak akan lengkap. Harus ditambahkan dengan sebuah penjelasan, bahwa platform ini adalah bentuk sekolah masa depan untuk pelajar yang tidak saja berbasis internet, tetapi lebih menekankan pada perangkat mobile.

"Kelase adalah platform edukasi mobile pertama di Indonesia. Pendekatannya bukan lagi hanya e-learning, tetapi mobile learning," kata Winastwan Gora, salah satu pendiri Kelase, dalam perbincangan dengan suara.com di Jakarta, baru-baru ini.

Gora mengatakan bahwa Kelase adalah sebuah gagasan untuk memindahkan sekolah ke dalam genggaman tangan para peserta belajar, baik itu murid-murid,  guru, orang tua murid, maupun institusi sekolah itu sendiri.

Ia mengatakan dengan Kelase, para guru dan murid, bisa melaksanakan proses belajar mengajar yang tadinya hanya berjalan di dalam kelas, ke ruang-ruang media sosial yang bisa dengan mudah diakses melalui telepon seluler atau komputer tablet.

"Anak-anak di Indonesia sudah banyak menggunakan tablet dan smartphone. Tetapi sayang, mereka masih banyak menggunakannya hanya untuk berkomunikasi dan bermain (game). Dengan Kelase, kami berharap teknologi mobile ini juga bisa dimanfaatkan sebagai alat belajar," tukas Gora.

Kelase kini sudah tersedia dalam format web yang bisa diakses melalui komputer konvensional maupun melalui aplikasi di telepon seluler pintar berbasis Android. Rencananya Kelase juga akan diluncurkan di telepon seluler bersistem Windows.

Tak Semua Bisa Masuk

Platform itu, jika dilihat sekilas, sangat mirip dengan Facebook. Di dalamnya para pengguna menulis status, saling berkomentar, mengunggah foto dan dokumen, serta dilengkapi dengan fitur chatting. Hanya saja, ada perbedaan mendasar antara Kelase dengan Facebook.

"Kelase adalah jejaring sosial tertutup," tegas Brimy Laksmana, salah satu pendiri yang kini menjabat sebagai CEO PT Edukasi 101, perusahaan tempat Kelase bernaung.

Berbeda dari Facebook yang terbuka, yang penggunanya bisa melihat siapa saja di dalamnya secara leluasa, Kelase adalah media sosial yang tertutup. Tidak semua orang bisa masuk di dalamnya.

Prosedur mendaftar ke Kelase, jelas Brimy, dimulai dari institusi, baik itu sekolah (SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi), lembaga informal seperti lembaga les privat, maupun lembaga home schooling. Setelah institusi mendaftar, guru, murid, dan orang tua bisa masuk di dalamnya.

"Yang mendaftar pertama adalah sekolah sebagai institusi. Setelah itu, akan ditunjuk seorang admin untuk sekolah tersebut. Admin itu akan diberi kode-kode unik yang dibagikan kepada guru, murid, dan orang tua agar mereka bisa mendaftar ke Kelase," jelas Brimy.

Dengan demikian, sambung Brimy, para murid yang berada di dalam Kelase hanya akan berhubungan dengan orang-orang yang dia kenal dan hanya akan berkomunikasi tentang hal-hal di sekitar pendidikannya di sekolah.

Di dalam Kelase guru dan murid bisa menggelar aktivitas belajar mengajar seperti layaknya di dalam kelas, mulai dari berdiskusi, pemberian materi, mengerjakan pekerjaan rumah, membaca, dan mengerjakan kuis. Kelase menyediakan fitur yang dinamakan "Kelas" untuk tujuan itu.

"Di sana guru bisa mengunggah materi pelajaran, bahan bacaan dalam bentuk PDF atau tautan, maupun memberikan kuis. Murid-murid bisa mengunggah pekerjaan rumahnya di sana dan para guru bisa mengunduh serta memeriksanya secara langsung," jelas Gora.

Kelase menyediakan fitur grafik pengukur kemajuan belajar, yang bisa menjadi sumber informasi bagi orang tua maupun guru yang ingin melihat kemajuan belajar anak atau murid mereka.

"Itu dihitung dari sudah berapa banyak materi yang dia baca, berapa banyak pekerjaan rumah yang dia selesaikan, dan seberapa aktif dia di dalam forum-forum diskusi," tambah Gora lagi.

Selain fitur Kelas, dalam Kelase juga ada fitur Edukonten. Di dalamnya disediakan berbagai materi mulai dari buku, artikel, foto, video, bahkan game edukasi yang berkaitan dengan pelajaran para siswa.

"Yang mengisinya bisa guru, para penerbit, atau pun dari Kelase sendiri," ujar Brimy.

Meski demikian Brimy dan Gora, yang sempat bekerja untuk raksasa teknologi Amerika Serikat, Intel, mengatakan bahwa Kelase tidak serta merta meniadakan sekolah konvensional.

"Ini sebenarnya konsep Pembelajaran Abad 21, ketika guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan bagi murid. Ruang kelas di sekolah tetap menjadi arena belajar, tetapi di sana murid dan guru lebih terlibat dalam aktivitas seperti diskusi dan presentasi. Proses pemahaman materi dari guru ke murid diselesaikan di Kelase," kata Brimy.

Sumber Uang?

Meski demikian, untuk mewujudkan gagasan mereka dan melanggengkan Kelase, Brimy dan Gora mengaku masih banyak menemui tantangan.

"Salah satu tantangan adalah pengetahuan guru. Banyak guru yang belum akrab dengan internet. Ditanya tentang email saja mereka masih gagap," kata Brimy.

Karenanya untuk mengatasi hal itu, Brimy dan timnya kerap menggelar pelatihan di berbagai wilayah di Tanah Air untuk memberikan pemahaman tentang teknologi pada para guru.

Selain itu, modal juga menjadi kendala utama. Startup seperti Kelase, membutuhkan modal banyak untuk tumbuh dan berkembang, menjangkau lebih banyak pengguna. Pada 2014 lalu Kelase sempat mendapat aliran modal dari lembaga investasi lokal, Insight Ivestment.

"Dana itu kami gunakan untuk mengembangkan sumber daya manusia di Kelase, untuk membangun tim kami," kata Brimy.

Tetapi di masa depan, ujar Brimy, Kelase akan memanfaatkan beberapa peluang untuk mendulang uang.

"Pertama tentu dari iklan," kata dia, "Tetapi karena ide kami tentang pendidikan, kami tidak bisa menerima sembarang iklan. Konsepnya kami akan menerima iklan dari perusahaan atau perorangan dalam program yang kami sebut our heroes. Mereka akan membayar kami untuk membuat sebuah konten bernilai edukasi di Kelase, yang di dalamnya menyebut nama atau merek mereka," beber Brimy.

Selain dari iklan, sambung Gora, Kelase akan mencari pendapatan dari konten yang disediakan di dalam platform itu.

"Guru, developer, atau penerbit bisa menjual materi, buku, atau konten yang lain di Kelase. Sistemnya nanti bagi hasil," ujar Gora.

Sejauh ini sudah ada 1750-an institusi pendidikan yang menggunakan Kelase dan hampir 6000 pengguna terdaftar. Pada Januari 2015 ini, Kelase akan meluncurkan aplikasi native di Android dan di Februari mendatang akan meluncurkan aplikasi messenger yang terpisah dari layanan utama Kelase.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kenali Kebiasaan Pengguna Internet Sebelum Bikin Aplikasi Mobile

Kenali Kebiasaan Pengguna Internet Sebelum Bikin Aplikasi Mobile

Tekno | Rabu, 25 Juni 2014 | 18:36 WIB

Terkini

Bocoran Oppo Pad Mini: Tablet Kecil Rasa Flagship dengan Snapdragon 8 Gen 5

Bocoran Oppo Pad Mini: Tablet Kecil Rasa Flagship dengan Snapdragon 8 Gen 5

Tekno | Senin, 23 Maret 2026 | 08:14 WIB

15 Prompt AI untuk Edit Foto Lebaran 2026, Hasil Ciamik dan Natural

15 Prompt AI untuk Edit Foto Lebaran 2026, Hasil Ciamik dan Natural

Tekno | Senin, 23 Maret 2026 | 08:13 WIB

32 Kode Redeem FF 23 Maret 2026: Cuma Modal Dikit Dapat Bundle Clover dan SG Lumut

32 Kode Redeem FF 23 Maret 2026: Cuma Modal Dikit Dapat Bundle Clover dan SG Lumut

Tekno | Senin, 23 Maret 2026 | 08:11 WIB

Huawei Enjoy 90 Pro Max Bocor! Baterai 8.500mAh Siap Gegerkan Pasar HP Midrange

Huawei Enjoy 90 Pro Max Bocor! Baterai 8.500mAh Siap Gegerkan Pasar HP Midrange

Tekno | Senin, 23 Maret 2026 | 07:43 WIB

Cara Isi Saldo e-Toll Lewat HP Tanpa NFC untuk Arus Balik Lebaran 2026, Mudah dan Praktis

Cara Isi Saldo e-Toll Lewat HP Tanpa NFC untuk Arus Balik Lebaran 2026, Mudah dan Praktis

Tekno | Senin, 23 Maret 2026 | 06:51 WIB

Terpopuler: 9 Pilihan HP Gaming Terjangkau David GadgetIn, Redmi A7 Pro Dijual Murah Rp1 Jutaan

Terpopuler: 9 Pilihan HP Gaming Terjangkau David GadgetIn, Redmi A7 Pro Dijual Murah Rp1 Jutaan

Tekno | Senin, 23 Maret 2026 | 06:50 WIB

7 Rekomendasi HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar 2026

7 Rekomendasi HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar 2026

Tekno | Minggu, 22 Maret 2026 | 21:05 WIB

5 Rekomendasi Tablet Rp2 Jutaan 2026 yang Cocok untuk Multitasking

5 Rekomendasi Tablet Rp2 Jutaan 2026 yang Cocok untuk Multitasking

Tekno | Minggu, 22 Maret 2026 | 12:35 WIB

20 Prompt AI Edit Foto Lebaran Jadi Glow Up dan Estetik, Tinggal Copas!

20 Prompt AI Edit Foto Lebaran Jadi Glow Up dan Estetik, Tinggal Copas!

Tekno | Minggu, 22 Maret 2026 | 11:13 WIB

32 Kode Redeem FF 22 Maret 2026: Trik Spin Bundle Old Clover Cuma Modal 1000 Diamond

32 Kode Redeem FF 22 Maret 2026: Trik Spin Bundle Old Clover Cuma Modal 1000 Diamond

Tekno | Minggu, 22 Maret 2026 | 08:31 WIB