Studi: Harimau, Singa, dan Gajah Lenyap di 2100

Liberty Jemadu Suara.Com
Senin, 01 Agustus 2016 | 19:49 WIB
Studi: Harimau, Singa, dan Gajah Lenyap di 2100
Ilustrasi harimau, binatang yang terancam punah pada 2100 (Shutterstock).

Suara.com - Cucu dari generasi yang hidup saat ini tak akan lagi bisa melihat binatang-binatang raksasa seperti gajah, harimau, dan singat di alam liar. Mereka hanya akan mempelajari binatang-binatang buas itu seperti kita belajar tentang dinosaurus di dalam buku pelajaran.

Ramalan ini merupakan hasil penelitian para empu biologi dan konservasi dunia dalam studi mereka yang diterbitkan dalam jurnal BioScience edisi 27 Juli, sepekan lalu.

Mereka meramalkan bahwa binatang-binatang terbesar yang saat ini tersisa di Bumi akan punah pada 2100, jika tak ada langkah pencegahan signifikan yang diambil oleh dunia.

"Semakin menipisnya keragaman hayati dan fauna raksasa, secara khusus, adalah sebuah masalah yang ada di depan kita dan mungkin lebih mendesak dari perubahan iklim," kata Peter Lindsey, kordinator inisiatif konservasi singa pada organisasi Panther, yang terlibat dalam studi itu.

Dalam studinya para ilmuwan itu mengatakan bahwa perburuan ilegal dan ekspansi pemukiman manusia telah menyebabkan berkurangnya populasi badak dan gajah; mendesak kucing-kucing raksasa ke wilayah yang lebih sempit; dan memicu antara manusia dengan binatang-binatang liar.

Tetapi dampak global terhadap hewan-hewan raksasa dari tren-tren ini sukar dipetakan, demikian kata Lindsey. Untuk melihat gambaran besarnya para ilmuwan kemudian membuat katalog berisi daftar spesies yang terancam punah di enam benua di dunia, termasuk daftar spesies yang terancam punah dalam daftar IUCN.

Setelah menganalisis daftar itu, para ilmuwan melihat tren yang mengerikan. Sekitar 59 persen dari spesies karnivora besar - yang bobotnya di atas 15kg - seperti harimau dan 60 persen dari herbivora raksasa seperti badak putih dan gorila dataran rendah, bisa lenyap dari Bumi dalam waktu dekat.

"Kami melihat ada risiko lenyapnya sebagian besar spesies paling ikonik di dunia di akhir abad ke-22," tulis para ilmuwan dalam studi mereka.

Mereka mengatakan bahwa risiko paling besar ada di kawasan Sub-sahara Afrika dan Asia Tenggara. Di dua kawasan ini sebagian besar binatang raksasa berdiam.

"Sudah saatnya kita memikirkan untuk melestarikan mereka, karena penurunan jumlah dan habitat mereka berlangsung sangat cepat," kata William Ripple, ekolog dari Oregon State University yang memimpin penelitian itu. (Live Science)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI