Suara.com - Di balik GoJek yang menjadi fenomena ada solusi jenius yang ditawarkan untuk mengatasi kemacetan yang melelahkan di kota-kota besar Tanah Air. Jenius dalam kasus GoJek adalah transportasi yang jauh lebih ringkas dan murah - sebuah solusi yang diimpikan oleh sebagian besar penghuni Jakarta dan kota-kota satelitnya dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Formula utama dalam resep keberhasilan GoJek tidak lain adalah pemanfaatan teknologi internet mobil. Kini formula yang sama ramai-ramai digunakan oleh berbagai perusahaan rintisan di Tanah Air, dengan harapan bisa menawarkan solusi jenius di bisnis lain.
Salah satu yang menggantung mimpi pada formula ini adalah PesanLab. Berdiri sejak 2015, PesanLab menawarkan solusi bagi mereka yang ingin melakukan pemeriksaan keseatan di laboratorium klinik. Mirip GoJek, PesanLab memindahkan pemesanan pemeriksaan laboratorium klinik dari cara tradisional ke jalur online.
Singkatnya, dari pada pergi ke laboratorium klinik untuk memesan dan mendaftarkan diri untuk diperiksa, kini para pelanggan bisa memesan dan mendaftarkan diri ke laboratorium yang diinginkan hanya melalui telepon seluler pintar.
"(Prinsipnya) sama, memindahkan proses," kata pendiri dan CEO PesanLab, Dimas Prasetyo ketika ditemui Suara.com di Jakarta, Jumat (9/9/2016).
"Seperti ojek yang sebenarnya dari dulu ada, tapi orang-orang harus ke pangkalan ojek dengan tenaga, waktu, dengan tarifnya yang seringkali mahal. Kami di sini juga memindahkan pemesanan laboratorium dari cara lama ke cara baru yaitu online," imbuh Dimas.
Potensi Besar
Dimas, yang pernah bekerja sebagai analis di salah satu laboratorium terbesar di Indonesia, mengatakan bahwa potensi bisnis pemeriksaan laboratorium di Indonesia, terutama di kota-kota besar sangat tinggi.
"Demand (permintaan) untuk ini tinggi. Misalnya Prodia. Mereka pangsa pasarnya di Indonesia adalah 10 persen. Tapi (secara volume) mereka itu memeriksa 1 juta orang," beber dia.
Dia yakin potensi ini bisa lebih besar lagi jika pelayanan ditawarkan ke pelanggan melalui media online, mengingat jumlah pengguna internet di kota-kota besar di Indonesia sudah semakin banyak.
Berbekal pengalaman, pemahaman pasar, dan keyakinan pada solusi yang ditawarkan internet ia kemudian mengajak sejumlah rekannya untuk mendirikan PesanLab. Selain itu ia juga mendekati laboratorium-laboratorium besar seperti Prodia, BioTest, PathLab, Kimia Farma, dan sedang dalam penjajakan dengan Pramita.
Tak hanya itu, baru setahun berdiri PesanLab kini telah berhasil mendapatkan investasi dari M-Health Tech, perusahaan penyedia jasa kesehatan yang membawahi HaloDoc.com dan ApotekAntar.
Lantas, apa yang ditawarkan oleh PesanLab?
Melalui PesanLab, masyarakat bisa mengetahui harga-harga pemeriksaan kesehatan di tiap laboratorium yang menjadi partner, memilih laboratorium, jenis pemeriksaan, dan lokasi laboratorium terdekat. Ia menjanjikan tarif di PesanLab tidak lebih mahal dan justru akan menawrkan banyak diskon.
Hasil pemeriksaan laboratorium juga dikirim langsung via e-mail, sehingga pelanggan tak perlu repot-repot mendatangi laboratorium.
Sampai detik ini, PesanLab masih berkosentrasi di area Jabodetabek. Ada tiga segmen pasar yang ingin digarap yaitu pasien dengan rujukan dokter klinik atau dokter praktek, pasien atas permintaan sendiri, atau korporasi.
"Sekitar 50 persen konsumen kami dari permintaan pasien sendiri, 30 persen rujukan dokter, dan 20 persen korporasi. Sebanyak 50 persen juga adalah konsumen yang repeat order karena harus melakukan tes berkala untuk diabetes," kata Dimas yang 25 Oktober nanti baru mau berusia 31 tahun itu.
Akhir bulan ini, PesanLab akan merilis aplikasi untuk Android dan iOS versi beta, juga platform versi beta untuk dokter. Pada akhir tahun 2016, PesanLab berencana meluncurkan platform untuk korporasi.
"Sampai tahun depan kami ingin kembangkan kerja sama dengan 50 klinik dan ingin ada di lima kota besar. Dari sisi konsumen, mungkin kami ingin bisa capai 10 ribu pemeriksaan dan 100 ribu orang bisa teredukasi," tutup Dimas.