Array

Letusan Gunung Agung Mampu Redam Pemanasan Global?

Liberty Jemadu Suara.Com
Sabtu, 02 Desember 2017 | 07:14 WIB
Letusan Gunung Agung Mampu Redam Pemanasan Global?
Asap dan abu vulkanik terus menyembur dari kawah Gunung Agung di Karangasem, Bali, Selasa (28/11). [Antara]

Suara.com - Letusan Gunung Agung di Bali diperkirakan bisa meredam pemanasan global untuk sementara atau mendinginkan suhu di permukaan Bumi, demikian kata sejumlah ilmuwan, termasuk dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA).

Seperti yang dilansir Vox, Kamis (30/11/2017), Chris Colose dari NASA mengatakan bahwa material yang disemburkan ke udara oleh Gunung Agung mampu membuat suhu Bumi lebih dingin selama beberapa bulan.

"Sebagian besar erupsi gunung berapi tak memiliki dampak berarti terhadap iklim dan demikian juga risiko yan ditimbulkan oleh letusannya hanya terbatas para populasi di sekitarnya," kata Colose kepada Fox.

"Bagi iklim yang hal yang harus diperhatikan bukan abu hasil erupsi tetapi sulfur," imbuh dia.

Para ilmuwan sejak lama telah mengetahui bahwa erupsi gunung berapi yang menyemburkan jutaan ton gas dan partikel ke atmosfer bisa mengubah suhu Bumi selama berbulan-bulan.

Gas seperti sulfur dioksida biasanya disemburkan dari kawah gunung berapi ketika erupsi. Gas ini biasanya bereaksi di udara dan berubah menjadi substansi yang bisa menghalau sinar Matahari sehingga membuat suhu di permukaan Bumi lebih dingin. Selain itu material dari gunung berapi juga bisa mengubah pola curah hujan di Bumi.

Para pakar iklim juga pernah mengajukan gagasan kontroversial untuk meniru erupsi gunung berapi di Bumi untuk mengontrol pemanasan global. Gagasan ini dikenal sebagai geoengineering.

Saat ini belum diketahui apakah erupsi Gunung Agung mampu menghasilkan gas dan abu yang cukup untuk memengaruhi iklim di Bumi. Tetapi para ilmuwan mengatakan bahwa ketika gunung itu meletus pada 1963, suhu Bumi turun sekitar 0,1 - 0,2 derajat Celcius selama satu tahun.

Letusan gunung api terakhir yang berpengaruh terhadap suhu Bumi adalah erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Erupsi itu menghasilkan sekitar 10 juta metrik ton sulfur ke atmosfer. Sementara letusan Gunung Agung pada 1963 hanya menghasilkan sekitar 6 juta metrik ton sulfur.

Sementara itu Zeke Hausfather, peneliti dari insitut peneliti iklim Carbon Brief di Inggris, dalam analisisnya meramalkan bahwa letusan Gunung Agung mampu menurunkan suhu Bumi sekitar 0,1-0,2 derajat Celcius selama periode 2018-2020 jika material yang dilepaskannya ke atmosfer kurang lebih sama dengan yang terjadi pada 1963.

"Proyeksi ini didasarkan pada hubungan historis antara erupsi gunung berapi dan suhu Bumi. Suhu Bumi bisa kembali naik pada 2023," tulis Hausfather dalam situs resmi Carbon Brief.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI