alexametrics

Di Era Internet, Fujifilm Justru Dorong Budaya Cetak Foto

Liberty Jemadu | Aditya Gema Pratomo
Di Era Internet, Fujifilm Justru Dorong Budaya Cetak Foto
Contoh produk printer foto Instax Share SP-3 yang diluncurkan Fujifilm di Jakarta, Selasa (19/12/2017). [Suara.com/Aditya Gema Pratomo]

Permintaan kertas foto terus meningkat.

Suara.com - PT Fujifilm Indonesia terus mendorong budaya mencetak foto di kalangan masyarakat. Hal itu dijelaskan oleh Wawan Setiawan Sales Manager Electronic Imaging Division PT Fujifilm Indonesia.  

"Kita beri edukasi ke masyarakat bahwa foto yang dicetak agar lebih menarik daripada disimpan di foto," ujarnya di usai peluncuran printer Instax Share SP-3 di Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Ia melanjutkan bahwa foto yang dicetak akan bernilai lebih tinggi. Pasalnya, foto dapat dijadikan hiasan di ruang tamu dan memiliki usia yang lebih lama.

Sejalan dengan misi tersebut, Fujifilm Indonesia secara rutin juga menghadirkan kamera instan praktis kepada masyarakat. Untuk saat ini, Fujifilm memiliki jajaran kamera dari seri Instax.

Sebagaimana diketahui, kamera seri Instax mememungkinkan pengguna untuk mencetak foto langsung dari kamera. Terakhir, Fujifilm merilis kamera instan Instax SQ10 pada Mei lalu.

Secara khusus, Wawan memang melihat bahwa budaya cetak foto mulai tumbuh di masyarakat. Hal itu terlihat dari meningkatnya permintaan kertas foto.

"Pada 2015 permintaan kertas foto setiap bulannya adalah 7.000. Namun, pada 2017 permintaan per bulan mencapai 30.000. Jadi, pertumbuhannya di Indonesia sangat tinggi," tutupnya.