Meski Dipandang Sebelah Mata, Game Pengganti PUBG di China Laris

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Meski Dipandang Sebelah Mata, Game Pengganti PUBG di China Laris
Tencent Holdings Limited, China. Salah satu dari perusahaan internet terbesar di dunia. Booth dalam sebuah pameran internet. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].

China diketahui telah melarang game PUBG mulai pada kuartal kedua 2019.

Suara.com - China diketahui telah melarang game PUBG mulai pada kuartal kedua 2019. Namun, Tencent akhirnya mengakali dengan mengganti PUBG dengan game lain, yaitu Game for Peace. Game tersebut merupakan sebuah game yang memiliki cara bermain yang serupa dengan PUBG namun dengan efek yang berbeda.

Disebutkan bahwa ketika pemain menembak jatuh pemain lain, mereka tidak mengeluarkan darah dan pemain yang telah mati bangkit kembali lalu melambaikan tangan.

Meski pada awalnya dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai lelucon, game tersebut justru laris manis di China. Dilansir dari Gizmochina, Tencent merilis pendapatan untuk Game for Peace yang digarapnya dan berhasil meraup keuntungan sebanyak 70 juta dolar AS atau hampir sekitar Rp 1 triliun pada Mei 2019.

Game PUBG sedang dimainkan di sebuah ponsel pintar. [Shutterstock]
Game PUBG sedang dimainkan di sebuah ponsel pintar. [Shutterstock]

Menurut laporan dari Sensor Tower, penggabungan dari game PUBG Global bersama dengan Game for Peace telah meraup pendapatan total sebanyak 146 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,1 triliun pada periode yang sama, Mei 2019.

Game for Peace sendiri dapat diterima di China karena perbedaan pada warna darah serta penghapusan konten mayat pada game tersebut. Tak hanya itu, gameplay yang hampir sama dengan PUBG juga menjadi faktor mengapa Game for Peace dapat diterima di China.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS