Lempeng Raksasa Patah di Selatan Indonesia, Picu Gempa Magnitudo 8 di 2012

Liberty Jemadu

Minggu, 24 Mei 2020 | 06:35 WIB
Lempeng Raksasa Patah di Selatan Indonesia, Picu Gempa Magnitudo 8 di 2012
Ilustrasi gempa bumi. (Antara/ist)

Suara.com - Sebuah lempeng tektonik raksasa di selatan Indonesia perlahan-lahan terbelah. Fenomena ini diketahui setelah peneliti menganalisis dua gempa dengan magnitudo di atas 8 yang terjadi pada 2012 silam di dekat Sumatera.

Lempeng tektonik Indo - Australia - Capricorn itu terbelah dalam kecepatan yang sangat lamban, sekitar 1,7 milimeter per tahun. Dalam 1 juta tahun, retakan di lempeng tektonik itu baru akan mencapai sekitar 1,7 km.

"Ini bukan struktur yang bergerak cepat, tetapi cukup signifikan jika dibandingkan dengan yang lain," kata Aurelie Coudurier-Curveur, pakar geosains bawah laut dari Institut Fisika Bumi, Paris seperti dilansir Live Science.

Sebagai pembanding, Patahan Laut Mati di Timur Tengah bergerak sekitar 0,4 cm per tahun. Sementara Patahan San Andreas di California, AS bergerak sekitar 1,8 cm per tahun.

Retakan pada lempeng tektonik itu berlokasi di bawah laut. Keretakan itu ditemukan berkat dua gempa besar pada 2012 lalu. Pada 11 April 2012, gempa bermagnitudo 8,6 dan 8,2, terjadi di Samudera Hindia, di dekat Sumatera.

Gempa itu, uniknya, tidak berpusat di sepanjang zona subduksi, pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia, tetapi pada sebuah lokasi di tengah lempeng Indo-Australia.

Para ilmuwan pun menduga bahwa sedang terjadi deformasi batuan di tengah lempeng itu, tepatnya di lokasi yang disebut sebagai Wharton Basin. Deformasi ini sendiri, menurut para ilmuwan, tidak mengejutkan. Alasannya karena Lempeng Indo - Australia - Capricorn bukan satu unit yang kohesif.

"Ia bukan lempeng yang seragam. Ada tiga lempeng yang, kurang lebih, menyatu dan bergerak ke arah yang sama bersamaan," jelas Coudurier-Curveur.

Dalam studi itu para ilmuwan meneliti retakan di Lubuk Wharton, tempat dua gempa di 2012 itu berpusat. Ada dua data hasil penelitian pada 2015 dan 2016 terkait kawasan itu. Data itu berisi soal topografi retakan di zona tersebut.

baca juga

Saat Coudurier-Curveur dkk menganalisis dua data tersebut, mereka menemukan bukti akan adanya patahan jenis strike-slip di sana.

Mereka juga menemukan 62 lubuk laut di dekat zona retakan yang panjangnya mencapai hampir 350 km. Lubuk-lubuk laut yang ditemukan berukuran besar, dengan lebar mencapai 3 km dan panjang mencapai 8 km.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apa Persamaan dan Perbedaan Gempa Bumi Venezuela dan Kolombia?

Apa Persamaan dan Perbedaan Gempa Bumi Venezuela dan Kolombia?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:24 WIB

Ilmuwan Temukan Potongan Kerak Bumi Berusia 4 Miliar Tahun di Bawah Australia

Ilmuwan Temukan Potongan Kerak Bumi Berusia 4 Miliar Tahun di Bawah Australia

Tekno | Rabu, 24 Agustus 2022 | 14:32 WIB

Terkini

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:57 WIB

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:45 WIB

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

News | Rabu, 30 September 2026 | 22:15 WIB

×