Array

Diet Turunkan Risiko Terkena Covid-19?

Rabu, 27 Mei 2020 | 14:00 WIB
Diet Turunkan Risiko Terkena Covid-19?
Ilustrasi diet. (Shutterstock)

Suara.com - Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa orang dengan berat badan berlebih lebih alias obesitas berisiko terkena Covid-19.

"Obesitas adalah keadaan peradangan kronis. Anda memiliki situasi peradangan tingkat rendah dan sistem pernapasan yang terganggu akibat tekanan berat badan," kata Profesor Sanjay Sharma, ahli jantung di Rumah Sakit Universitas NHS NHS Trust di London Selatan dan juru bicara Masyarakat Kardiologi Eropa, seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (27/5/2020).

"Lemak berlebih mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah pada paru-paru dan diafragma. Ketika Anda diserang oleh virus (Covid-19), Anda punya masalah karena potensi kematian semakin besar," imbuhnya.

Selain itu, lanjut Sharma, sebagian besar orang gemuk memiliki tekanan darah tinggi dan diabetes tipe 2, yang juga terkait dengan tingginya tingkat reseptor ACE2. Ini adalah beberapa faktor yang membantu menjelaskan alasan mengapa tingkat kematian orang gemuk akibat virus corona lebih tinggi.

Oleh karena itu, Sharma berasumsi bahwa mengurangi berat badan atau diet bisa mengurangi jaringan lemak dalam tubuh dan jumlah reseptor ACE2, sehingga peluang untuk terhindar dari virus corona lebih besar.

"Ini (kasus kematian Covid-19) adalah argumen saya untuk mengekang obesitas karena saya curiga, kita akan melihat lebih banyak pandemi virus seperti ini," terang Sharma.

Ilustrasi perempuan mengalami obesitas. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan mengalami obesitas. (Shutterstock)

Meski begitu, Dosen Biokimia Klinis dari University of Westminster Dr David Gaze mengatakan bahwa penyebab kematian akibat Covid-19 lebih rumit, bukan hanya sekadar jumlah reseptor. Lokasi infeksi virus juga turut berpengaruh.

Beberapa penelitian yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa reseptor ACE2 telah melakukan tugasnya dan menyebabkan pembuluh darah membesar, mengurangi tingkat cedera pada paru-paru. Tetapi penelitian lain pada tikus menunjukkan efek sebaliknya.

"Tampaknya ada perbedaan dalam kondisi reseptor ACE2, apakah reseptor ditemukan dalam bentuk terlarut dalam darah atau bentuk reseptor terikat dalam organ," tandas Gaze.

Baca Juga: Berukuran Jumbo, Penampakan Ketupat Ini Bikin Ngakak Warganet

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI