Penelitian Ungkap Pencarian Google tentang Gejala Penyakit Sering Salah?

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Senin, 25 Mei 2020 | 11:30 WIB
Penelitian Ungkap Pencarian Google tentang Gejala Penyakit Sering Salah?
Ilustrasi Google Search. [Shutterstock]

Suara.com - Sebagian besar orang akan mencari tentang gejala tertentu, ketika merasa tidak sehat melalui Google. Mencari gejala penyakit secara online adalah salah satu cara termudah dan tercepat untuk menemukan informasi.

Namun menurut penelitian terbaru, melakukan diagnosis mandiri melalui internet cendering lebih sering salah.

Sebuah penelitian yang menganalisis keakuratan situs web dan aplikasi pengecekan gejala online mengungkapkan bahwa kualitas saran diagnostik situs dan aplikasi itu sangat bervariasi, dan rata-rata itu hanya mampu mendiagnosis dengan benar sekitar sepertiga atau 36 persen.

"Meskipun mungkin tergoda untuk menggunakan alat-alat ini untuk mencari tahu apa yang mungkin menyebabkan gejala sakit, sebagian besar tidak dapat diandalkan. Kenyataannya adalah situs web dan aplikasi ini harus dilihat dengan hati-hati karena ini tidak melihat keseluruhannya," ucap Michella Hill, penulis utama penelitian dan mahasiswa magister dari Edith Cowan University (ECU) di Australia.

Untuk menyelidiki pemeriksa gejala online yang menyediakan diagnosis medis, Hill dan rekan ilmuwan mengidentifikasi 36 pemeriksa gejala paling populer dan gratis yang tersedia melalui situs web atau melalui aplikasi.

Novel Coronavirus (nCoV) alias virus corona yang sedang mewabah di China. (Shutterstock)
Novel Coronavirus (nCoV) alias virus corona yang sedang mewabah di China. (Shutterstock)

Para ahli mengujinya terhadap 48 deskripsi kondisi medis. Beberapa gejala pasien diambil dari penelitian sebelumnya dan materi pelatihan kesehatan profesional, sementara sisanya adalah kondisi medis berbasis gejala baru dari sejumlah penyakit khsusus di Australia.

Hasilnya, pemeriksa gejala online itu memberikan hasil yang beragam. Pada 27 layanan yang menghasilkan informasi diagnostik berdasarkan gejala yang diberikan, pemeriksa online mencatat diagnosis yang benar pertama kali hanya sebesar 36 persen dari tes.

Menariknya, dalam penelitian sebelumnya yang diterbitkan lima tahun lalu oleh tim ilmuwan di Universitas Harvard menemukan angka yang hampir sama persis dalam pengujian mereka, di mana 23 pemeriksa gejala menyarankan diagnosis yang benar pertama hanya dalam 34 persen kasus.

Kesamaan itu mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa kedua penelitian berbagi beberapa sketsa kondisi medis yang sama. Tetapi mengingat penelitian baru ini juga memasukkan kondisi medis yang baru, ini menunjukkan sesuatu yang lain. Secara keseluruhan, dalam setengah dekade terakhir, pemeriksa gejala online belum benar-benar bisa diandalkan.

baca juga

Namun bukan berarti alat-alat itu sama sekali tidak berguna. Dalam penelitian baru ini, tim Hill menemukan pemeriksa gejala terdaftar diagnosis yang benar dengan hasil 58 persen. Meski begitu, masih banyak penyempurnaan yang harus dilakukan.

Ilustrasi virus corona. [Pixabay]/emmagrau]
Ilustrasi virus corona. [Pixabay]/emmagrau]

Menurut para ilmuwan, pemeriksa gejala online yang menggunakan algoritma kecerdasan buatan dan mendasarkan saran mereka pada penyebaran informasi lebih dapat diandalkan daripada yang lain. Sayangnya, tidak semua pemeriksa gejala memiliki back-end yang canggih. Di sisi lain, layanan tersebut menunjukkan keterbatasan dalam mendiagnosis.

"Masing-masing dari layanan ini memperingatkan bahwa mereka bukan pengganti untuk berkonsultasi dengan dokter," tulis para penulis, seperti dikutip dari Science Alert, Senin (25/5/2020).

Terlepas dari kekurangannya, para ilmuwan mengatakan pemeriksa gejala online bisa bermanfaat jika pengguna menggunakannya sebagai sumber daya pendidikan. Apapun hasil diagnosis yang ditampilkan, orang yang sakit tidak boleh mengambil kesimpulan sendiri dan harus tetap memeriksakan diri ke dokter. Penelitian ini telah dierbitkan dalam The Medical Journal of Australia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Riwayat Pencarian Covid-19 di Google Ini Jadi Sorotan Warganet

Riwayat Pencarian Covid-19 di Google Ini Jadi Sorotan Warganet

Tekno | Jum'at, 22 Mei 2020 | 09:12 WIB

Studi Terbaru: Virus Corona Perpendek Umur Pasien Hingga 10 Tahun

Studi Terbaru: Virus Corona Perpendek Umur Pasien Hingga 10 Tahun

News | Senin, 11 Mei 2020 | 11:07 WIB

Penelitian: Orang Kulit Hitam Lebih Berisiko Meninggal karena Covid-19

Penelitian: Orang Kulit Hitam Lebih Berisiko Meninggal karena Covid-19

Tekno | Minggu, 10 Mei 2020 | 08:00 WIB

Penelitian Baru: Virus Corona Kembali Bermutasi dan Sekarang Lebih Menular

Penelitian Baru: Virus Corona Kembali Bermutasi dan Sekarang Lebih Menular

Tekno | Kamis, 07 Mei 2020 | 10:30 WIB

Peneliti Virus Corona Ditemukan Tewas Tertembak dalam Apartmen

Peneliti Virus Corona Ditemukan Tewas Tertembak dalam Apartmen

News | Rabu, 06 Mei 2020 | 15:45 WIB

Diteliti Sebagai Pengobatan Potensial Covid-19, Warga AS Timbun Obat Maag

Diteliti Sebagai Pengobatan Potensial Covid-19, Warga AS Timbun Obat Maag

Tekno | Rabu, 29 April 2020 | 10:00 WIB

Terkini

Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional

Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 23:57 WIB

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 23:38 WIB

Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital

Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital

Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 23:06 WIB

Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP

Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP

Sumsel | Kamis, 16 Juli 2026 | 22:54 WIB

Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia

Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia

Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 22:40 WIB

Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya

Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya

Sport | Kamis, 16 Juli 2026 | 22:32 WIB

Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?

Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?

Sumsel | Kamis, 16 Juli 2026 | 22:24 WIB

Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU

Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU

Bola | Kamis, 16 Juli 2026 | 22:10 WIB

Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi

Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 21:48 WIB

Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam

Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam

Sumsel | Kamis, 16 Juli 2026 | 21:42 WIB

×