alexametrics

Masker Cegah 23 Kali Lipat Tetesan Batuk yang Keluar di Udara

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Masker Cegah 23 Kali Lipat Tetesan Batuk yang Keluar di Udara
Ilustrasi seorang perempuan mengenakan masker kain. [Shutterstock]

Penelitian terbaru menemukan bahwa penggunaan masker penutup wajah saat batuk, menghasilkan pengurangan 23 kali lipat pada tetesan batuk yang melayang di udara.

Suara.com - Penelitian terbaru menemukan bahwa penggunaan masker penutup wajah saat batuk, menghasilkan pengurangan 23 kali lipat pada tetesan batuk yang melayang di udara, daripada jika penutup wajah tidak digunakan sama sekali.

Para ilmuwan menemukan bahwa volume "awan" tetesan yang dikeluarkan saat batuk tanpa masker, tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan masker bedah dan 23 kali lebih besar dibandingkan dengan masker N95.

Para ahli juga menemukan "awan" batuk bisa berada di udara selama lima hingga delapan detik, setelah itu "awan" mulai menghilang, terlepas dari ada atau tidaknya penggunaan masker.

Masker telah dipercaya oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan pemerintah di seluruh dunia untuk mengatasi penyebaran virus Corona (Covid-19).

Baca Juga: Dulu Langka dan Mahal, Masker Bedah Kini Jadi Hadiah Lotre Rp 3 Ribuan

Ilustrasi penularan virus corona. [Shutterstock]
Ilustrasi penularan virus corona. [Shutterstock]

Meskipun ada banyak bukti yang mendukung penggunaannya, tim di balik penelitian terbaru mengatakan konsep tetesan yang tersebar di udara sekitarnya masih kurang dipahami secara luas.

"Peran udara yang dikeluarkan selama batuk dan bersin serta pencampuran berikutnya dengan udara sekitar adalah hal yang penting dalam memahami penyebaran pandemi," kata Amit Agrawal dan Rajneesh Bhardwaj, penulis penelitian, seperti dikutip Independent, Kamis (22/10/2020).

Keduanya menambahkan, analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa lima hingga delapan detik pertama setelah terjadinya batuk sangat penting, untuk menghilangkan tetesan yang dihembuskan di udara. Volume udara terinfeksi sekitar 23 kali lebih banyak, daripada yang dikeluarkan melalui batuk.

"Kehadiran masker secara drastis mengurangi volume ini dan akibatnya, secara signifikan mengurangi risiko infeksi pada orang lain yang ada di ruangan itu. Demikian dengan upaya untuk memotong jarak yang ditempuh awan, seperti batuk ke siku dan menggunakan sapu tangan, dapat mengurangi volume awan batuk dan kemungkinan penyebaran virus," tambah para penulis.

Para ilmuwan dari Indian Institute of Technology, Mumbai, mengatakan penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Physics of Fluids itu dapat digunakan dalam membantu merancang ventilasi ruang tertutup untuk mengurangi penyebaran penyakit.

Baca Juga: Waspada! Burung-burung Australia Bawa Bakteri Berbahaya

Penelitian ini juga dapat membantu menentukan berapa banyak orang yang dapat ditampung dengan aman di bangsal rumah sakit, gerbong kereta, kabin pesawat, atau restoran.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mengenakan segala jenis penutup wajah di atas hidung dan mulut, dapat membantu mengurangi penyebaran tetesan virus saat seseorang batuk atau bersin.

Laporan internasional yang diterbitakan The Lancet pada 3 Juni lalu, telah menganalisis data dari 172 penelitian lain di 16 negara dan memperkirakan bahwa hanya ada 3 persen kemungkinan tertular Covid-19 jika seseorang memakai masker wajah.

Komentar