Ilmuwan Sebut Risiko Penularan Covid-19 di Pesawat Sangat Rendah?

Rabu, 28 Oktober 2020 | 13:00 WIB
Ilmuwan Sebut Risiko Penularan Covid-19 di Pesawat Sangat Rendah?
Ilustrasi naik pesawat di tengah pandemi Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Para ilmuwan Harvard menyimpulkan bahwa risiko penularan virus Corona (Covid-19) di dalam pesawat, berkurang ke tingkat yang sangat rendah.

Sistem ventilasi dalam pesawat yang digabungkan dengan tindakan pencegahan seperti memakai masker wajah, pembersihan kabin, dan menjaga jarak selama penerbangan membantu mencegah penyebaran virus.

"Pendekatan berlapis ini mengurangi risiko penularan Covid-19 di dalam pesawat di bawah aktivitas rutin lainnya selama pandemi, seperti berbelanja atau makan di luar," tulis laporan penelitian tersebut.

Aviation Public Health Initiative (APHI) yang terdiri dari fakultas dan ilmuwan di Harvard T.H. Chan School of Public Health, telah menerbitkan laporan Tahap Satu dengan menganalisis perjalanan dari gate ke gate di dalam pesawat, meskipun laporan belum ditinjau rekan sejawat.

Ilustrasi ventilasi pesawat. [Ulrike Mai/Pixabay]
Ilustrasi ventilasi pesawat. [Ulrike Mai/Pixabay]

Inisiatif ini disponsori oleh grup maskapai penerbangan AS Airlines untuk Amerika bersama dengan produsen pesawat dan peralatan lainnya, serta operator penerbangan dan banda. Namun APHI menegaskan bahwa temuan dan rekomendasi dalam penelitian ini adalah kesimpulan independen dari para ilmuwan Harvard.

"Sementara penyelidikan virus dan penularannya sedang dilakukan, penelitian sampai saat ini menunjukkan risiko yang relatif sangat rendah untuk tertular Covid-19 saat terbang," kata para ilmuwan, seperti dikutip ABC News, Rabu (28/10/2020).

Sebelumnya, sebanyak tiga penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases CDC menemukan kemungkinan kasus penularan Covid-19 dalam penerbangan internasional, tetapi itu terjadi sebelum maskapai penerbangan menerapkan persyaratan wajib masker.

Masa inkubasi virus yang lama dikombinasikan dengan kurangnya pelacakan kontak membatasi jumlah data yang dapat dianalisis para ahli di sekitar transmisi di pesawat.

"Sampai ada vaksinasi yang meluas, tetap ada risiko infeksi di semua lapisan masyarakat. Seperti halnya aktivitas apa pun selama pandemi ini, pilihan untuk pergi naik pesawat adalah pilihan pribadi dan bergantung pada penilaian kesehatan pelancong, toleransi risiko individu, dan potensi konsekuensi terinfeksi," tulis laporan tersebut.

Baca Juga: NASA Yakin Ada Kandungan Air di Bulan, Tanda Kehidupan?

APHI berencana merilis laporan Tahap Dua dalam dua bulan mendatang, yang akan mengamati perjalanan curb ke curb dan menganalisis risiko terkait dengan waktu yang dihabiskan seseorang di bandara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono, Apa Layak Dilaporkan Polisi?
Ikuti Kuisnya ➔
Cek Prediksi Keuangan Kamu Tahun Depan: Akan Lebih Cemerlang atau Makin Horor?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Kamu di 2026 Siap Glow Up atau Sudah Saatnya Villain Era?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Bagaimana Prediksimu untuk Tahun 2026? Lebih Baik atau Lebih Suram?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Trivia Natal: Uji Pengetahuan Anda Tentang Tradisi Natal di Berbagai Negara
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Kepribadian: Siapa Karakter Ikonik Natal dalam Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mitos vs Fakta Sampah: Cara Cerdas Jadi Pahlawan Kebersihan Lingkungan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI