Studi: Virus Corona Pemicu Covid-19 Mungkin Berasal dari Asia Tenggara

Liberty Jemadu Suara.Com
Rabu, 17 Februari 2021 | 07:15 WIB
Studi: Virus Corona Pemicu Covid-19 Mungkin Berasal dari Asia Tenggara
Ilustrasi kelelawar yang menjadi inang virus corona di Asia Tenggara. (Shutterstock)

Efek bola salju dari beternak binatang karnivora kecil

Pada 2002-2004, beberapa binatang karnivora kecil ditangkap di dalam kurungan di pasar Cina atau restoran yang ditemukan positif SARS-CoV, seperti musang palem bertopeng, anjing rakun dan musang luwak Cina.

Sejumlah anggota komunitas Musang Lovers Indonesia tampil membawa hewan peliharaannya pada ajang Car Free Day (CFD) di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Minggu (12/4/2015). [Suara.com/Oke Atmaja]
Sejumlah anggota komunitas Musang Lovers Indonesia tampil membawa hewan peliharaannya pada ajang Car Free Day (CFD) di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Minggu (12/4/2015). [Suara.com/Oke Atmaja]

Binatang-binatang karnivora kecil ini mamalia yang penyendiri dan aktif pada malam hari – persis seperti trenggiling. Di alam liar, penularan sesekali pada satu individu dari spesies ini oleh kelelawar Sarbecovirus memiliki kemungkinan yang kecil menyebabkan epidemi. Namun, satu binatang terinfeksi yang ditempatkan di satu fasilitas penangkaran intensif bisa menyebabkan evolusi virus jenis ini yang cepat dan tidak terkendali.

Pada 2020, cerpelai Amerika yang diternakkan untuk bulunya terkontaminasi virus SARS-CoV-2 dari manusia di Eropa dan Amerika Serikat. Pada November 2020, jutaan cerpelai di Denmark dimatikan massal setelah binatang-binatang itu terinfeksi COVID-19 dan secara bergantian menyebarkan virus bermutasi kembali ke manusia.

Krisis COVID-19 mengajari dunia bahwa mengurung binatang-binatang karnivora kecil dengan jumlah yang sangat besar memiliki risiko kesehatan yang besar: virus bisa menyebar dan berevolusi dengan cepat di fasilitas penangkaran, berpotensi memproduksi varian yang lebih terkontaminsasi atau lebih berbahaya. Seperti trenggiling dan spesies karnivora kecil yang sering ditahan dan dijual bersama di pasar basah, efek “bola salju” karena penularan virus antarspesies bisa menjadi langkah terakhir dalam permulaan pandemi COVID-19 pada manusia.

Skenario ini kemungkinan besar terjadi karena hampir satu juta trenggiling telah dijual pada dekade lalu dan jutaan binatang karnivora kecil diternakkan di peternakan bulu di Cina.

Untuk menguji coba hipotesis ini dan memahami bagaimana epidemi sedang bermunculan di Cina dan tidak di tempat lain, akan menjadi menarik untuk mencari infeksi yang mungkin terjadi karena Sarbecoviruses dalam sampel cerpelai Amerika dan anjing luwak yang diternakkan untuk diambil bulunya di Cina.

Sampel-sampel ini ada, mereka dikoleksi selama dua dekade untuk mempelajari virus virus distemper anjing atau virus flu burung H5N1 dan H9N2.

Artikel ini tayang sebelumnya di The Conversation.

Baca Juga: Varian Virus Corona Afrika Selatan, Brasil dan Inggris Mulai Masuk India

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI