alexametrics

Google Doodle Hari Ini Tampilkan Sosok Sariamin Ismail

Dythia Novianty
Google Doodle Hari Ini Tampilkan Sosok Sariamin Ismail
Google doodle hari ini Sariamin Ismail. [Google]

Google doodle hari ini menampilkan Sariamin Ismail, seorang perempuan berpakaian adat Minang yang sedang menulis.

Suara.com - Google doodle hari ini menampilkan Sariamin Ismail, seorang perempuan berpakaian adat Minang yang sedang menulis di bagian huruf O

Tepat hari ini, Sabtu (31/7/2021) adalah merayakan ulang tahun Sariamin Ismail ke-112.

Penulisan Google berupa rumput merambat berwarna hijau. Lalu siapakah Sariamin Ismail ini?

Setelah Google doodle diklik, akan muncul keterangan sosok Sariamin Ismail merupakan penulis yang tercatat sebagai noveliis perempuar pertama di Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Masih Berjibaku Melawan Covid-19, Google.org Sumbang Rp 14,4 Miliar

Uniknya, ia sering memakai nama samaan Selasih dan Seleguri atau gabungan keduanya Selasih Seleguri.

Novel pertamanya berjudul "Kalau Tak Untung" diterbitkan Balai Pustaka pada 1943.

Sesuai dengan tampilan Google doodle, Sariamin Ismail mengenakan pakaian adat Minang lantaran ia lahir di Kabupaten Pasaman Barat pada 31 Jui 1909 dan tutup usia pada 15 Desember 1995 di Pekanbaru.

Google doodle hari ini Sariamin Ismail. [Google]
Google doodle hari ini Sariamin Ismail. [Google]

Mengutip Wikipedia, Sariamin Ismail menulis untuk sejumlah surat kabar termasuk Pujangga Baru, Panji Pustaka, Asjarq, Sunting Melayu, dan Bintang Hindia.

Bersama kepindahannya ke Kuantan sejak 1941, Sariamin naik sebagai anggota parlemen daerah untuk Provinsi Riau setelah terpilih pada tahun 1947. Ia terus menulis untuk sisa umurnya.

Baca Juga: Google: Jenis Vaksin Covid-19 dan Durasi PPKM Paling Banyak Dicari Warganet Indonesia

Berbeda dengan novel-novel awal lainnya seperti Sitti Nurbaya (1923) oleh Marah Rusli, karya Sariamin tidak berfokus pada anak dari keluarga kaya.

"Kalau Tak Untung" menyorot seorang anak dari keluarga miskin di pedesaan, sementara "Karena Keadaan" menggambarkan seorang anak tiri jatuh cinta dengan gurunya.

Novel terakhirnya adalah "Kembali ke Pangkuan Ayah" pada 1986. Sebelum dia wafat, Sariamin menerbitkan antalogi puisi.

Komentar