alexametrics

Parasetamol di Teluk Jakarta, Pemerintah Diminta Kuatkan Regulasi Tata Kelola Limbah

Liberty Jemadu
Parasetamol di Teluk Jakarta, Pemerintah Diminta Kuatkan Regulasi Tata Kelola Limbah
Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. (Suara.com/Arga)

Ada tiga kemungkinan sumber parasetamol di Teluk Jakarta. Ketiganya adalah ekskresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan, rumah sakit, dan industri farmasi.

Suara.com - Pemerintah diminta untuk menguatkan regulasi tata kelola limbah air, baik rumah tangga maupun industri untuk mencegah zat berbahaya seperti obat-obatan mencemari lautan.

Imbauan ini disampaikan Zainal Arifin, pakar ekotoksikologi di Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) setelah studinya yang menemukan konsentarasi tinggi parasetamol di Teluk Jakarta mencuri perhatian publik pada pekan ini.

"Tugas setiap kita baik industri maupun masyarakat, untuk menjaga kesehatan manusia dan juga kesehatan lingkungan termasuk laut. Semua itu agar kita dapat hidup lebih bermakna,” kata Zainal seperti dilansir dari laman resmi BRIN, Sabtu (2/10/2021).

Selain itu, Zainal juga mendesak masyarakat untuk lebih bertanggung jawab menggunakan produk farmasi dan tak membuang sisa obat-obatan sembarangan.

Baca Juga: BRIN Pastikan Lima Fungsi Kebun Raya Tetapi Dipenuhi Secara Imbang

"Sedangkan dalam pemakaian produk farmasi (obat, stimulan), publik perlu lebih bertanggung jawab, misalnya tidak membuang sisa obat sembarangan. Ini yang nampaknya belum ada, perlu ada petunjuk pembuangan sisa-sisa obat," tegas Zainal.

Sebelumnya dilaporkan bahwa konsentrasi parasetamol di perairan Teluk Jakarta lumayan tinggi dan faktanya lebih tinggi dari beberapa perairan yang pernah diteliti di dunia.

Konsentrasi tinggi parasetamol terdeteksi di Angke sebesar 610 nanogram per liter (ng/L) dan Ancol 420 ng/L. Jumlah ini lebih tinggi dibanding di pantai Brasil yang sebesar 34,6 ng/L dan pantai utara Portugis yang sebesar 51,2–584 ng/L.

Meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut, tetapi studi di Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebakan peningkatan stress hewan dan oxydative stress, yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antiosidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.

Zainal sebelumnya mengatakan ada tiga kemungkinan sumber parasetamol di Teluk Jakarta. Ketiganya adalah ekskresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan, rumah sakit, dan industri farmasi.

Baca Juga: BRIN Serius Persiapkan Penghentian Reaktor Nuklir Bandung

Komentar