facebook

Astronaut Bulan Masa Depan Bisa Minum Gunakan Air Es Vulkanik

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Astronaut Bulan Masa Depan Bisa Minum Gunakan Air Es Vulkanik
Ilustrasi Bulan. [Ponciano/Pixabay]

Astronaut yang pergi ke Bulan di masa depan dapat minum, mandi, hingga mengisi bahan bakar pesawat dengan air dari gunung berapi kuno di Bulan.

Suara.com - Astronaut yang pergi ke Bulan di masa depan dapat minum, mandi, hingga mengisi bahan bakar pesawat dengan air dari gunung berapi kuno di Bulan.

Hingga saat ini, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa Bulan mungkin menyimpan lebih banyak air daripada yang diperkirakan sebelumnya, di mana air tersembunyi di kawah bayangan.

Dalam studi yang diterbitkan oleh University of Colorado, para ahli memperkirakan sebagian besar air ini mungkin berasal dari letusan gunung berapi.

Kemudian menghasilkan aliran lava yang membentuk Moon’s Mares, mendistribusikan uap air yang membeku di wilayah kutub.

Baca Juga: Bermasalah, NASA Umumkan Sisa Hidup Misi InSight di Mars

Dalam rentang waktu yang sangat lama, itu bisa menjadi lapisan es setebal puluhan kaki atau lebih, memberikan keuntungan bagi penjelajah Bulan yang membutuhkan sumber daya lokal.

"Mungkin saja lima atau 10 meter di bawah permukaan, kita bisa menemukan lapisan es yang tebal," kata Paul Hayne, rekan penulis studi dan asisten profesor ilmu astrofisika dan planet, dikutip dari Independent, Kamis (19/5/2022).

Pelepasan gas vulkanik seimbang terhadap pelepasan atmosfer ke ruang angkasa dan pembentukan es permukaan, dengan asumsi atmosfer tercampur dengan baik. [Iopscience.iop.org]
Pelepasan gas vulkanik seimbang terhadap pelepasan atmosfer ke ruang angkasa dan pembentukan es permukaan, dengan asumsi atmosfer tercampur dengan baik. [Iopscience.iop.org]

"Kami benar-benar perlu menelusuri dan mencarinya," tambahnya.

Pada 2020, NASA mengumumkan penelitian yang menunjukkan es air dapat bertahan dalam bayangan di sisi Bulan yang diterangi Matahari. Namun, dari mana air es itu berasal masih belum pasti.

Studi baru ini mengacu pada penelitian dari 2017 yang menunjukkan bahwa letusan Bulan sekitar 3,5 miliar tahun lalu, melepaskan banyak bahan gas sehingga Bulan sebenarnya berada di atmosfer dengan tekanan permukaan hingga 1,5 kali dari atmosfer saat ini di Mars.

Tetapi atmosfer Bulan ini menghilang ke luar angkasa selama periode 70 juta tahun.

Baca Juga: Super Flower Blood Moon 2022 Jadi Gerhana Bulan Total Terlama dalam 33 Tahun

Tetapi para ilmuwan menduga uap air yang dilepaskan oleh letusan gunung berapi mungkin mengendap di permukaan Bulan seperti embun beku.

Pemodelan komputer juga menunjukkan bahwa es air tidak hanya dapat terbentuk dengan cara ini.

Sekitar 41 persen dari uap air yang dilepaskan gunung berapi Bulan selama periode aktifnya dapat membeku sebagai es.

Jumlah tersebut lebih banyak daripada yang tersedia di Danau Michigan. Penelitian ini akan menjadi berita baik bagi NASA yang ingin mengirimkan kembali astronaut ke permukaan Bulan.

Air sulit untuk diangkut ke luar angkasa, namun itu elemen yang penting karena astronaut membutuhkannya untuk minum, menanam tumbuhan, hingga membuat bahan bakar roket.

Air di Bulan. [NASA]
Air di Bulan. [NASA]

Memanfaatkan air Bulan bisa menjadi kunci bagi para astronaut untuk menguji teknologi, operasi, dan prosedur yang diperlukan untuk hidup selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan di permukaan Bulan.

Komentar