Studio Jepang Desak OpenAI Hentikan Penggunaan Konten Anime di Sora 2, Kenapa?

Cesar Uji Tawakal Suara.Com
Selasa, 04 November 2025 | 14:46 WIB
Studio Jepang Desak OpenAI Hentikan Penggunaan Konten Anime di Sora 2, Kenapa?
Square Enix menjadi salah satu studio game yang karyanya dipakai untuk melatih Sora 2. (Unreal)

CODA, yang berdiri sejak 2002, mewakili sejumlah perusahaan terbesar Jepang di bidang anime, musik, media, dan video game.

Di dalamnya terdapat nama-nama seperti: Studio Ghibli, Aniplex, Kadokawa dan Shogakukan-Shueisha, Square Enix, Bandai dan Bandai Namco Filmworks, TMS Entertainment, TV Asahi, TV Tokyo, dan Fuji TV, Toho dan Toei, dan Universal Music Japan

Dengan daftar anggota sebesar ini, permintaan CODA kepada OpenAI berpotensi berdampak luas terhadap akses konten Jepang yang digunakan dalam pelatihan model generatif di masa depan.

OpenAI belakangan ini sering menghadapi gugatan terkait pelanggaran hak cipta, terutama soal penggunaan karya tanpa izin untuk melatih model.

Hanya beberapa hari sebelumnya, gugatan dari sejumlah penulis, termasuk dari penulis Game of Thrones George R. R. Martin, dinyatakan dapat berlanjut di pengadilan Amerika Serikat.

Mereka menuduh OpenAI dan Microsoft menggunakan karya mereka sebagai data pelatihan tanpa lisensi.

Selama ini OpenAI mengakui bahwa ChatGPT dilatih menggunakan “informasi yang tersedia secara publik”, data kemitraan, serta konten yang diberikan pengguna. Namun untuk Sora 2, perusahaan masih belum menjelaskan secara detail sumber video yang dipakai.

Sora 2 mampu meniru berbagai gaya visual dari film Netflix, video game seperti Minecraft dan Civilization, hingga karakter populer Marvel. Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa model tersebut mungkin dilatih dengan data berlisensi atau konten komersial.

Asosiasi industri film Amerika, Motion Picture Association (MPA), turut memberikan komentar setelah peluncuran Sora 2. Mereka menyatakan bahwa tanggung jawab mencegah pelanggaran hak cipta sepenuhnya ada di tangan OpenAI, bukan pada pemilik IP.

Baca Juga: ChatGPT Go Resmi Diluncurkan Pertama di Asia Tenggara, Gandeng Telkomsel, Bundling Mulai Rp 50.000

“OpenAI harus mengambil langkah tegas dan segera untuk menanggulangi masalah ini,” ujar Charles Rivkin, CEO MPA.

Permintaan keras CODA menandai babak baru dalam perdebatan global mengenai AI generatif dan hak cipta. Jepang yang selama ini dikenal dengan budaya animasi dan game yang kuat, kini berada di garis depan menuntut transparansi dan perlindungan karya.

Sementara itu, OpenAI dihadapkan pada tuntutan untuk membuktikan bahwa teknologinya tidak merugikan kreator yang menjadi sumber inspirasi model mereka. Konflik ini diperkirakan akan terus berkembang seiring semakin banyak perusahaan yang meninjau bagaimana konten mereka digunakan oleh AI.

Kontributor : Gradciano Madomi Jawa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI