- BSSN mencatat 5,16 miliar anomali trafik siber selama 2025 yang mengancam operasional bisnis serta reputasi organisasi di Indonesia.
- ITSEC Asia dan ADIGSI menggelar simulasi krisis siber bagi pemimpin organisasi di Makassar untuk memperkuat kemampuan pengambilan keputusan strategis.
- Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan siber melalui pemetaan risiko serta perangkat praktis agar organisasi siap menghadapi serangan digital nyata.
Suara.com - Ancaman serangan siber di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya transformasi digital di berbagai sektor.
Tidak hanya menyerang sistem teknologi informasi, insiden siber kini juga berpotensi mengganggu operasional bisnis, layanan publik, hingga reputasi organisasi.
Kondisi tersebut membuat kesiapan menghadapi krisis siber menjadi perhatian utama para pemimpin perusahaan dan institusi.
Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan sepanjang 2025 terdapat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik atau indikasi aktivitas siber yang memerlukan perhatian.
Angka tersebut menegaskan bahwa kemampuan merespons insiden kini sama pentingnya dengan upaya pencegahan.
Menjawab tantangan tersebut, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) menggelar Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) di Makassar sebagai upaya memperkuat kesiapan organisasi menghadapi berbagai skenario serangan siber.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla itu mempertemukan para pemimpin industri, praktisi keamanan siber, regulator, hingga pemangku kepentingan dalam sebuah simulasi pengambilan keputusan saat terjadi krisis keamanan digital.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi isu strategis yang tidak lagi menjadi tanggung jawab divisi teknologi informasi semata.
"Ketika sebuah insiden terjadi, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi. Karena itu, kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim IT saja. Para pengambil keputusan juga perlu memahami bagaimana merespons situasi tersebut dengan cepat dan tepat," ujar Patrick.
Menurutnya, organisasi tidak cukup hanya membangun sistem pertahanan digital, tetapi juga harus memiliki kemampuan mengambil keputusan secara cepat ketika insiden benar-benar terjadi.
"Kami ingin peserta pulang dengan sesuatu yang dapat langsung digunakan. Karena itu, GNKS tidak hanya membahas ancaman, tetapi juga membantu organisasi memetakan risiko, menyusun desain pengamanan, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan ketika menghadapi insiden. Tujuannya sederhana, yaitu membantu organisasi menjadi lebih siap," katanya.
Simulasi Krisis Siber untuk Para Pengambil Keputusan
Berbeda dengan seminar keamanan siber pada umumnya, GNKS menghadirkan Executive Tabletop Exercise, yaitu simulasi yang dirancang khusus bagi pimpinan perusahaan dan organisasi.
Dalam program tersebut, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menjalani lima tahapan simulasi, mulai dari mengenali skenario ancaman, menyusun strategi mitigasi, mengambil keputusan saat krisis berlangsung, mempresentasikan hasil keputusan, hingga melakukan evaluasi bersama.
Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh pengalaman praktis mengenai bagaimana sebuah serangan siber berkembang dan langkah-langkah yang harus diambil untuk meminimalkan dampaknya terhadap organisasi.
Selain simulasi, peserta juga mendapatkan tiga perangkat yang dapat diterapkan langsung di lingkungan kerja, yakni Security Flow untuk memetakan risiko keamanan, Security Design Concept sebagai panduan merancang sistem keamanan digital, serta Security Skills Assessment & Recognition guna mengukur peningkatan kompetensi dalam menghadapi insiden siber.
![Gerakan Nasional Ketahanan Siber ke Indonesia Timur. [ITSEC]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/27/15584-gerakan-nasional-ketahanan-siber-ke-indonesia-timur.jpg)
BSSN: Ketahanan Siber Jadi Fondasi Ekonomi Digital
Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menegaskan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan transformasi digital Indonesia.
"Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi berbagai risiko siber. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan terpercaya," ujar Slamet.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas menjadi kunci membangun ekosistem digital yang tangguh menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
ADIGSI Dorong Kesadaran Jadi Aksi Nyata
Sementara itu, Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, mengatakan banyak organisasi kini telah memahami pentingnya keamanan siber. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah kesadaran tersebut menjadi langkah nyata di tingkat operasional.
"Banyak organisasi sudah menyadari pentingnya keamanan siber, namun tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi tindakan nyata. Melalui GNKS, kami ingin menghadirkan forum yang praktis sehingga para peserta dapat saling belajar dan membawa hasil yang bisa diterapkan di organisasi masing-masing," katanya.
Firlie menambahkan, Makassar dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur yang memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem digital.
Roadshow Ketahanan Siber Berlanjut ke Sejumlah Kota
Gerakan Nasional Ketahanan Siber merupakan inisiatif ITSEC Asia bersama ADIGSI yang berlangsung sepanjang 2026 untuk meningkatkan kesiapan organisasi menghadapi ancaman siber di berbagai sektor.
![Ilustrasi Keamanan Siber. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/23/78830-ilustrasi-keamanan-siber.jpg)
Setelah diselenggarakan di Banten dan Makassar, roadshow akan berlanjut ke Pontianak, Bali, Yogyakarta, dan Medan, dengan harapan semakin banyak organisasi yang memiliki kemampuan menghadapi krisis keamanan digital.
"Kami berharap semakin banyak organisasi yang terlibat dalam gerakan ini. Ketahanan siber pada akhirnya merupakan kepentingan bersama yang akan mendukung tingkat kepercayaan terhadap ekonomi digital Indonesia," tutup Patrick dalam keterangan resminya, Sabtu (27/6/2026).