- Head of PR Xiaomi Indonesia, Abee Hakiim, menyatakan kenaikan harga komponen tidak mengurangi nilai bagi konsumen.
- Xiaomi meluncurkan Redmi 17 di Jakarta pada Kamis (20/8/2026) dengan baterai berkapasitas 7.500 mAh.
- Perusahaan memberikan dukungan perangkat lunak berupa empat kali pembaruan OS dan enam tahun pembaruan keamanan.
Suara.com - Harga sejumlah komponen smartphone, termasuk RAM dan storage, tengah menjadi tantangan bagi produsen. Namun, Xiaomi mengklaim kenaikan biaya komponen tidak otomatis membuat perusahaan mengurangi nilai yang ditawarkan kepada konsumen, khususnya di segmen entry-level.
Head of PR Xiaomi Indonesia, Abee Hakiim, mengatakan, harga sebuah smartphone tidak ditentukan hanya oleh satu komponen. Xiaomi mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari hardware, kebutuhan konsumen, kondisi pasar hingga dukungan software.
“Bukan cuma dari storage-nya saja yang lagi mahal, tapi juga tahap lain. Kita selalu melihat, selalu monitor apakah value yang kita terapkan itu sesuai dengan mereka,” ujar Abee dalam peluncuran REDMI 17 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, Xiaomi tetap membawa prinsip “innovation for everyone”, sehingga spesifikasi dan fitur yang ditawarkan harus tetap bisa dinikmati masyarakat secara luas.
HP Entry-Level Tak Lagi Sekadar Murah
Indonesia menjadi salah satu pasar penting untuk smartphone entry-level karena jumlah penggunanya masih besar. Namun, kebutuhan konsumen di segmen ini ikut berubah.
![Peluncuran REDMI 17 di Jakarta, Kamis (20/8/2026). [Xiaomi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/20/46841-redmi-17.jpg)
Pengguna kini tidak hanya mencari perangkat dengan harga terjangkau, tetapi juga menginginkan baterai besar, dukungan software panjang, kamera yang mumpuni, dan pengalaman penggunaan yang lebih baik.
Xiaomi mencoba menjawab kebutuhan tersebut melalui sejumlah perangkat Redmi. Salah satu contohnya adalah Redmi 17 yang membawa baterai berkapasitas 7.500 mAh. Kapasitas tersebut bahkan melampaui baterai sejumlah smartphone di kelas yang lebih tinggi.
“Walaupun dilihat dari kelasnya entry-level, tetap kita berikan pengalaman flagship. Dari sisi baterainya 7.500 mAh, di flagship pun juga ada yang lebih di bawah,” kata Abee.
Tidak hanya hardware, Xiaomi juga memberikan dukungan software yang relatif panjang, termasuk empat kali pembaruan OS dan enam tahun pembaruan keamanan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa persaingan smartphone entry-level mulai bergeser. Harga tetap penting, tetapi usia pakai dan pengalaman penggunaan juga menjadi bagian dari value yang ditawarkan.
Baterai Besar Jadi Kebutuhan Pengguna Aktif
Menurut Abee, kebutuhan terhadap baterai berkapasitas besar banyak datang dari pengguna muda yang memiliki aktivitas digital tinggi.
Smartphone kini digunakan untuk membuat konten, menonton video, bersosialisasi, bermain game hingga menjalankan berbagai pekerjaan. Aktivitas tersebut membuat daya tahan baterai menjadi salah satu pertimbangan penting.
“Baterai besar ini diinginkan atau permintaannya dari kalangan muda yang produktif. Mereka membutuhkan untuk membuat konten dan sebagainya. Dan itu membutuhkan baterai besar,” ujarnya.
Dengan kapasitas besar, pengguna tidak harus terlalu sering menghentikan aktivitas hanya untuk mencari sumber listrik.
![Peluncuran REDMI 17 di Jakarta, Kamis (20/8/2026). [Xiaomi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/20/42943-redmi-17.jpg)
Xiaomi Tak Hanya Mengandalkan Satu Spesifikasi
Meski baterai menjadi salah satu daya tarik Redmi 17, Xiaomi menegaskan tidak semua produknya akan dipaksa memiliki spesifikasi yang sama.
Setiap perangkat dirancang berdasarkan kebutuhan target penggunanya masing-masing.
“Setiap produk kita lihat dari kebutuhan konsumen maupun dari riset kita sendiri. Setiap produk Xiaomi dibuat sedemikian rupa supaya cocok dengan target audiensnya masing-masing,” jelas Abee.
Karena itu, kenaikan harga RAM dan storage tidak serta-merta membuat Xiaomi hanya memangkas spesifikasi tertentu untuk mempertahankan harga.
“Kita tidak melihat itu dari satu aspek, tapi kita melihat secara holistik,” kata Abee.
Strategi Xiaomi juga tidak lagi berhenti pada bisnis smartphone. Perusahaan mengembangkan ekosistem yang mencakup wearable, tablet, perangkat IoT, hingga perangkat rumah pintar.
Pendekatan tersebut terangkum dalam strategi Human Car Home, dengan smartphone sebagai salah satu pusat interaksi pengguna.
Ekosistem tersebut kemudian diperkuat melalui HyperOS, yang memungkinkan berbagai perangkat Xiaomi saling terhubung.