- Bitdefender dan PT GIA mengumumkan kerja sama eksklusif pada 8 Oktober 2026 untuk memasarkan produk keamanan di Indonesia.
- Pelaku kejahatan siber memanfaatkan kecerdasan artifisial dan deepfake untuk melakukan penipuan daring dalam skala besar di Indonesia.
- Produk Bitdefender dan PT GIA dijual melalui retailer serta marketplace untuk melindungi data pribadi dan keuangan konsumen.
Suara.com - Membedakan pesan asli dan penipuan di internet bisa semakin sulit ketika pelaku mulai memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi ini bisa dipakai untuk membuat modus penipuan lebih meyakinkan, sementara pengguna sering kali baru menyadari telah tertipu setelah data pribadi atau uang mereka terlanjur berpindah tangan.
Ancaman ini bukan perkara kecil di Indonesia. Data Global Anti-Scam Alliance (GASA) yang dikutip Bitdefender menunjukkan, 66 persen orang dewasa Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir.
Melihat risiko tersebut, perusahaan keamanan siber Bitdefender menggandeng Gema Informatika Abadi (PT GIA) untuk membawa seluruh lini produk keamanan konsumennya ke Indonesia. Kerja sama distribusi eksklusif ini diumumkan pada 8 Oktober 2026.
Produk yang ditawarkan mencakup perlindungan komputer dan ponsel, keamanan identitas digital, privasi, hingga perangkat anti-penipuan (anti-scam) dan teknologi pendeteksi deepfake.
AI Bikin Penipuan Lebih Sulit Dikenali
Pelaku penipuan kini bisa memanfaatkan AI untuk membuat pesan yang terdengar meyakinkan dan menjalankan aksinya dalam skala lebih besar.
Ancaman juga datang dari deepfake, yaitu konten gambar, video, atau suara buatan AI yang dibuat menyerupai orang sungguhan. Dalam situasi tertentu, konten seperti ini bisa dimanfaatkan untuk menyamar sebagai orang yang dikenal korban atau membangun kepercayaan sebelum meminta uang dan informasi sensitif.
Senior Vice President of Operations Bitdefender Consumer Solutions Group, Ciprian Istrate, mengatakan AI membuat pelaku kejahatan siber memiliki lebih banyak cara untuk melancarkan serangan.
“Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” ujar Ciprian.
Karena itu, perlindungan digital yang ditawarkan Bitdefender tak hanya menyasar virus di komputer. Perusahaan juga membawa solusi untuk menghadapi phishing, penipuan online, pencurian identitas, dan ancaman terhadap privasi pengguna.
Banyak Pengguna Masih Andalkan Keamanan Bawaan Ponsel
Ponsel menjadi perhatian tersendiri karena perangkat ini digunakan untuk berbagai aktivitas penting, mulai dari belanja online hingga membayar tagihan.
Namun, survei global terhadap 7.000 konsumen yang dikutip Bitdefender menemukan 48 persen responden tidak menggunakan solusi keamanan pihak ketiga di ponsel mereka.
Padahal, 53 persen menggunakan perangkat tersebut untuk aktivitas sensitif, termasuk pembayaran dan belanja online.
Survei yang sama mencatat satu dari tujuh responden pernah menjadi korban penipuan dalam setahun terakhir.
Angka tersebut menggambarkan risiko yang dihadapi pengguna ketika banyak urusan pribadi dan keuangan dilakukan melalui satu perangkat. Jika akun atau identitas digital berhasil dicuri, dampaknya bisa meluas ke berbagai layanan yang digunakan korban.
![Kolaborasi Bitdefender dan GIA membawa teknologi deteksi Deepfake ke Indonesia, Jakarta, Kamis (8/10/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/09/27298-kolaborasi-bitdefender-dan-gia.jpg)
Perlindungan dari Malware hingga Deepfake
Melalui kerja sama dengan PT GIA, Bitdefender akan memasarkan seluruh portofolio produk konsumennya di Indonesia. Pilihannya mencakup paket untuk pengguna individu maupun keluarga.
Selain perlindungan komputer dan perangkat mobile, portofolio tersebut mencakup fitur keamanan identitas, privasi, anti-scam, dan pendeteksi deepfake.
Produk-produk ini ditujukan untuk membantu pengguna menghadapi ancaman saat beraktivitas di rumah maupun ketika bepergian.
Direktur PT GIA, Mr. Chok, mengatakan kerja sama ini membuka akses lebih luas bagi konsumen Indonesia untuk menggunakan solusi keamanan dari Bitdefender.
“Kami senang dapat bermitra dengan Bitdefender untuk memberikan akses kepada masyarakat Indonesia terhadap perlindungan yang tepercaya dan canggih dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang,” ujarnya.
Kedua perusahaan juga akan memprioritaskan pemasaran solusi berbasis AI dan anti-penipuan. Fokus tersebut sejalan dengan meningkatnya penggunaan teknik social engineering, ketika pelaku memanipulasi korban agar percaya, membagikan informasi, atau melakukan transaksi.
Dijual Lewat Retailer dan Marketplace
Seluruh produk konsumen Bitdefender akan tersedia melalui jaringan reseller PT GIA, termasuk retailer fisik dan marketplace online di Indonesia.
Bitdefender juga mengantongi sejumlah pengakuan dari lembaga pengujian keamanan dan analis industri. Perusahaan tersebut dinobatkan sebagai Leader dalam IDC MarketScape: Worldwide Consumer Digital Life Protection 2025 Vendor Assessment serta menerima penghargaan AV-TEST untuk kategori perlindungan Windows, keamanan macOS, dan keamanan Android.
![Kolaborasi Bitdefender dan GIA membawa teknologi deteksi Deepfake ke Indonesia, Jakarta, Kamis (8/10/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/09/59727-kolaborasi-bitdefender-dan-gia.jpg)
Ciprian mengatakan, Indonesia merupakan salah satu pasar ekonomi digital yang besar dan berkembang pesat. Melalui kemitraan dengan PT GIA, Bitdefender ingin memperluas jangkauan perlindungan bagi pengguna di Tanah Air.