- Pemerintah Indonesia mengkaji deregulasi telekomunikasi untuk menurunkan beban operator guna meningkatkan efisiensi dan investasi industri pada Oktober 2026.
- Wamenkomdigi Angga Raka Prabowo menyampaikan kebijakan tersebut dalam acara Bali Tech Week di Denpasar, Bali.
- Upaya tersebut ditargetkan memperluas akses internet, meningkatkan kecepatan jaringan, dan menurunkan biaya layanan bagi seluruh masyarakat.
Suara.com - Pemerintah mengkaji deregulasi industri telekomunikasi untuk menekan beban regulasi operator yang saat ini mencapai sekitar 13–14 persen dari pendapatan.
Langkah ini diharapkan membuka ruang investasi, memperbaiki kualitas layanan, dan membuat akses internet lebih terjangkau bagi masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Angga Raka Prabowo mengatakan, pembenahan aturan diperlukan agar industri telekomunikasi lebih efisien dan kompetitif.
Namun, deregulasi tetap harus mempertimbangkan kepentingan negara dan manfaat yang diterima masyarakat.
“Deregulasi bukan semata-mata untuk mempermudah kegiatan usaha, melainkan menciptakan ekosistem investasi yang efisien, kompetitif, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas untuk rakyat,” ujar Angga dalam acara Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026).
Menurut Angga, pemerintah tengah mencari skema untuk menurunkan beban regulasi sekaligus menjaga keberlanjutan industri. Upaya tersebut diharapkan membuka ruang pertumbuhan industri hingga lima persen.
“Kita mencoba mencari titik tengah, artinya negara juga tidak boleh dirugikan. Tapi utamanya, kita berbuat yang terbaik untuk rakyat,” tegasnya.
Pemerintah berharap pembenahan aturan dapat mendorong investasi, memperbaiki harga dan kualitas layanan, mempercepat adopsi teknologi, serta memberikan dampak lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara.
2.000 Desa Belum Terjangkau Jaringan 4G
Kebutuhan deregulasi juga berkaitan dengan tantangan pemerataan akses internet di Indonesia. Berdasarkan data 2026 yang disampaikan dalam pemaparan tersebut, sekitar 81,7 persen penduduk atau 235 juta orang telah terhubung ke internet.
Meski demikian, sekitar 2.000 desa dan permukiman masih belum terjangkau jaringan 4G. Di sisi lain, penetrasi fixed broadband atau internet kabel baru mencapai sekitar 21 persen rumah tangga.
Keterjangkauan layanan juga masih menjadi persoalan. Biaya fixed broadband tercatat sebesar 4,86 persen dari pendapatan nasional bruto per kapita, lebih tinggi dibandingkan acuan keterjangkauan sebesar dua persen.
Sementara itu, kecepatan internet Indonesia berada di kisaran 51 Mbps untuk fixed broadband dan 66 Mbps untuk mobile broadband.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses internet masih perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas jaringan dan penurunan biaya layanan.
Pemerintah menilai penataan regulasi dapat membantu membuka ruang bagi investasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Pemerintah Kaji Berbagai Skema untuk Industri Telekomunikasi
![Ilustrasi BTS. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/08/37231-ilustrasi-bts.jpg)
Angga menjelaskan, kajian deregulasi mencakup sejumlah lapisan ekosistem digital, mulai dari infrastruktur pasif, konektivitas, platform dan komputasi, hingga aplikasi dan layanan.
Pada infrastruktur pasif, pemerintah mendorong prinsip membangun sekali untuk digunakan bersama.
Penerapannya mencakup penggunaan bersama menara dan tiang telekomunikasi, pembangunan jalur utilitas terpadu, akses terbuka dengan harga terjangkau, serta penyeragaman acuan retribusi daerah.
Untuk konektivitas, pemerintah mengkaji skema kemitraan yang memberikan kepastian permintaan bagi operator. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pemerintah menjadi penyewa utama layanan internet untuk sekolah, puskesmas, dan kantor desa.
Pemerintah juga mempertimbangkan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) berbasis kualitas layanan serta insentif biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi untuk mendukung pembangunan jaringan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di sektor pusat data, pemerintah mengkaji pemberian fasilitas insentif, termasuk untuk mendorong pengembangan investasi di luar Jawa.
Sementara itu, pada lapisan aplikasi dan layanan, upaya yang disiapkan meliputi pengembangan *regulatory sandbox*, penggunaan antarmuka pemrograman aplikasi (API) terbuka, serta pelibatan sektor swasta dalam pengembangan layanan pemerintahan digital atau GovTech.
Target Kecepatan Internet 100 Mbps pada 2029
Selain menata regulasi, pemerintah menargetkan kecepatan fixed broadband dan mobile broadband menuju 100 Mbps pada 2029.
Target lainnya mencakup perluasan jaringan serat optik hingga menjangkau 90 persen kecamatan dan peningkatan cakupan fixed broadband menjadi 50 persen rumah tangga.
Pemerintah juga menargetkan pemenuhan kewajiban cakupan 5G sekurang-kurangnya 51 persen populasi pada tahun kelima setelah izin frekuensi diberikan.
Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah menilai perlu ada kerja sama yang lebih erat dengan industri, termasuk melalui penataan biaya regulasi, penyeragaman perizinan dan retribusi, pengembangan model bisnis untuk wilayah 3T, serta penyusunan peta jalan spektrum frekuensi.
Pemerintah juga menyiapkan pembaruan kerangka hukum telekomunikasi yang berangkat dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi agar lebih sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Penyusunan kebijakan akan dilakukan secara bertahap melalui konsultasi publik bersama industri dan pemangku kepentingan.
“Kementerian Komunikasi dan Digital siap memfasilitasi dan terbuka dalam deregulasi serta debottlenecking ini agar industri infrastruktur digital Indonesia tumbuh secara berkelanjutan, berdaya saing, dan berdaulat, dengan satu tujuan utama, yaitu memakmurkan rakyat Indonesia,” pungkas Angga.