SuaraBandung.id - Gus Baha mengatakan bahwa dalam mengaji itu harus objektif dan jujur.
Satu di antara problem yang ada yaitu banyak da'i yang mengklaim dirinya mengajak kepada Allah dan Rasul, tetapi sebetulnya mengajak kepada kelompoknya sendiri.
"saya ini termasuk kiai yang masih orisinil, kiai orisinil gini, suatu saat atau kapan saja saya udah ndak laku jadi kiai, asal islam jalan tetep seneng, karena gak penting, yang populer saya ndak itu ndak penting, yang penting agama ini tetep jalan," Gus Baha mengatakan.
Gus Baha kemudian menghubungkan hal itu dengan kondisi negara saat ini. Ia mengatakan bahwa siapapun yang menjadi presiden, negera ini harus tetap berjalan.
"sama, negara ini juga harus jalan siapapun presidennya, nah ini penting saya utarakan karena perbedaan antara nafsu dengan komitmen beragama itu tipis sekali," Ungkap Gus Baha.
Lalu Gus Baha menyampaikan kisah tentang bukti keadilan Rasulullah SAW yakni ketika Rasul sedang mengadakan pengajian.
"pernah suatu saat nabi itu ngaji, ya ngaji seperti ini, terus ada pemuda dengan cueknya melewati masjid yang sedang dipakai nabi ngaji, singkat cerita semuanya ngomel, bergumam," ujar Gus Baha.
Kemudian disebutkan oleh Gus Baha bahwa dalam kisah itu nabi berbesar hati kepada pemuda yang lewat di depan pengajiannya.
"Celaka betul pemuda itu, ada nabi ngaji kok nggak ikut, tapi nabi secara besar hati hentikan, ini ada di beberapa kitab, kata nabi, pemuda itu mau mencangkul di lahannya, jika dia bekerja untuk keluarganya, untuk kebaikannya, maka itu bagian dari ajaranku," Gus Baha menyampaikan.
Setelah itu dikatakan oleh Gus Baha bahwa dalam kisah itu bisa jadi orang yang hadir dalam pengajian justru sedang menghindari kewajibannya kepada istri ataupun keluarga.
"dan bisa saja yang sedang hadir itu orang yang hindari istrinya minta belanja, jadi ngaji terus, biar nggak dituntut belanja tadi," ungkap Gus Baha disambut tawa pendengarnya.
Gus Baha kemudian menegaskan kembali tentang kiai-kiai yang disebut masih orisinil, bahwa mereka itu benar-benar melatih nafsunya.
"maka masyhur, ada orang cerita perang sama Ali radiallahu anhu, ketika perang ini sangat semangat, tapi ketika orang itu meludahi dan sayidina Ali tersinggung karena dinodai, sayidina Ali langsung angkat tangan," ungkap Gus Baha.
"sudah perangnya nggak usah diteruskan, karena saya sekarang marah sama kamu, sekarang demi nafsu karena kamu meludahi saya, padahal saya tadi motifnya demi Allah dan Rasul," Gus Baha menambahkan.
Gus Baha mengatakan bahwa emosi karena diri sendiri dan emosi karena Allah itu perbedaannya sangat tipis. Setelah itu Gus Baha menyampaikan kisah tentang seorang kiai yang dibulli oleh seorang anak muda.
Diceritakan dalam kisah itu bahwa sang kiai diminta untuk datang ke rumah pemuda tersebut, namun setelah sampai di rumah sang pemuda justru kiai tadi diminta untuk pulang. Pemuda itu mengulangi hal tersebut sampai tiga kali.
Kemudian disebutkan bahwa sang pemuda lalu bertanya kepada kiai "mengapa pak kiai ndak tersinggung?" tanya pemuda itu.
Kiai pun menjawab "anak muda, saya seneng sekali menuruti perintah Allah disuruh menghormati tetangga, sehingga ketika anda manggil ya saya datang, ketika anda nyuruh pulang ya saya pulang," jawab kiai.
Kiai merasa bahwa yang ia lakukan hanyalah karena perintah Allah, sang pemuda tersebut kemudian menangis dan meminta maaf kepada kiai tadi.
Gus Baha lalu menjelaskan kisah tersebut. Bahwa seorang kiai, dosen, doktor, atau bahkan profesor, apabila bisa didikte oleh orang bodoh maka hal itu menunjukkan bahwa kiai atau dosen itu tidak pintar sama sekali.
"kalau kita kan enggak, kita ini dosen, kiai, mungkin kita doktor, mungkin kita profesor, tapi kita ini sering didikte oleh orang bodoh, kamu jengkel dijengkelke orang bodoh itu namanya terdikte, itu bodoh atau pinter, lha itu ndak pinter sama sekali, kalau betul kamu pinter hanya bisa didikte oleh Allah SWT," pungkas Gus Baha.
Gus Baha menjelaskan tentang kisah-kisah tersebut dalam satu ceramah yang ia sampaikan, dilansir dari video dalam kanal YouTube Kakang Prabu, yang diunggah pada 4 Agustus 2020.