Tragedi itu bermula dari tembakan gas air mata polisi ke arah tribun penonton.
“Gate 13 itu seperti kuburan massal mas, banyak perempuan dan anak-anak,” katanya.
Setelahnya, Eko kembali menangis.
Tragedi mematikan di Kanjuruhan menyebabkan ratusan nyawa melayang.
Pemerintah seakan tidak pernah berkaca pada setiap nyawa manusia yang lepas dari dalam dan luar stadion tempat mereka mencari kebanggaan dan kesenangan selama 90 menit.
Satu per satu dari mereka pemegang kebijakan melempar tanggung jawab.
Mereka juga menghitung kerugian lantaran tak akan ada lagi Aremania menemani Arema, setidaknya untuk musim ini.
Kalkulasi sponsor, tiket suporter masih ada di isi kepala mereka para pengusaha di saat satu desa menangis lantaran nyawa warganya direnggut paksa di dalam stadion oleh amarah mereka yang digaji uang rakyat plus dana keamanan dari tiket mereka yang kini tinggal nama dan disedihkan.
Sejatinya andai tahu jika tiket yang mereka beli untuk menggaji aparat pencabut nyawa, rasanya mereka tak akan sudi.
Mereka akan berpikir dua kali untuk masuk stadion. Televisi bisa jadi alternatif untuk menyuarakan kebanggaan pada tim kesayangan.
Semua salah provokator, begitu di kepala mereka para aparat.
Namun, mereka tak cerdas jika provokator hanya segelintir.
Fakta dari kesaksian suporter dan mereka yang ada di luar stadion mungkin bisa jadi cahaya kebenaran cerita nyata yang sebenarnya di Kanjuruhan.
Perempuan, lelaki, hingga anak kecil berdesak-desakan di hadapan gerbang keluar Stadion Kanjuruhan.
Dari arah lapangan, polisi terus menembakkan gas air mata. Sementara gerbang terkunci rapat-rapat. Di Pintu 13, nyawa mereka melayang.