SuaraBandung.id - Buya Yahya menjawab pertanyaan terkait benar atau tidaknya jika seluruh dosa istri ditanggung oleh suaminya.
Bahkan seorang suami yang telah menjadi ayah, harus menanggung dosa yang diperbuat oleh anaknya sendiri. Apakah kedua pernyataan ini benar?
Buya Yahya menjelaskan dan meluruskan kembali pernyataan terkait dosa yang akan ditanggung oleh manusia hingga akhir hidupnya.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya mengungkapkan kebenaran dari pernyataan yang sering dilontarkan dalam kehidupan sehari-hari itu.
Sebagaimana mengutip penjelasan dari Buya Yahya di video YouTube Al-Bahjah TV yang diunggah pada (5/10/2023) namun baru diakses oleh bandung.suara.com pada Sabtu (5/3/2023).
"Salah itu dosa istri ditanggung suami, dosa anak ditanggung bapak. Dosa itu ditanggung masing-masing, kecuali suami (atau bapak) ikut andil dalam dosa istri sama dosa anaknya," kata Buya Yahya.
Dosa yang dimaksudkan bisa saja ditanggung oleh seorang suami atau ayah dapat terjadi apabila sebagai seorang imam dalam rumah tangga, ia tidak menasehati mereka.
Tidak mendidik dan memberikan pengertian terhadap perilaku yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh seorang muslim atau tidak sesuai dengan hukum syara'.
Apabila hal tersebut terjadi maka barulah seorang ayah atau suami dipastikan memiliki kewajiban untuk menanggung dosa dari keluarganya.
Baca Juga: WASPADA PASUTRI! Buya Yahya Ungkap Suami Tak Bisa Masuk Surga karena Istri?
Sebab ia melalaikan tugasnya sebagai pemimpin, kepala keluarga yang seharusnya memberikan dan menegaskan aturan yang membatasi perilaku muslim.
Sebagai contoh, Buya Yahya memberikan gambaran perihal kasus dimana memungkinkan seorang ayah harus ikut menanggung dosa anaknya.
"Seorang bapak membelikan alat-alat yang menjadikan anak maksiat, (contohnya membelikan) alat elektronik (dengan) tidak dibimbing, tidak dididik (cara penggunaannya kemudian) anak maksiat dengan itu," jelas Prof. Yahya Zainul Ma'arif, Lc., M.A., Ph.D.
Maka sebetulnya yang tepat adalah apabila kita turut andil dalam dosa yang dilakukan oleh istri, anak bahkan orang lain sekalipun.
Jika kita tak memberikan nasihat, memperingati mereka atau didikan sebelumnya inilah yang dimaksud dengan turut menanggung dosa.
"Kalau kita ikut andil dalam dosanya, maka kita mendapat bagian saham dari dosa yang kita tanam," kata Buya Yahya.