"Kita tidak bisa memprediksi, apakah mungkin terjadi pelecehan waktu pertama, kita nggak ngerti. Namun memori mereka berdua kan sudah ada gambaran tentang apa yang telah dilakukan.'
'Saat dia ketemu dengan Mario, umur kan sudah bertambah. Ada stimulus dari si Mario, sedangkan AG sudah punya daftar pustaka di kepalanya. Kan bisa berulang," kata Probowatie.
Ia juga menambahkan bahwa kebanyakan kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak, bisa berefek pada tindakan traumatis yang mempengaruhi pola kehidupan si korban di masa mendatang.
Padahal, beberapa korban anak sewaktu mengalami pelecehan seksual, masih belum mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Namun memori kejadian yang pernah dialami, masih rapat tersimpan di dalam kepala korban. Sehingga, penting adanya perhatian khusus bagi para korban, demi kesembuhan traumatisnya.
Seperti cinta dan kontrol dari keluarga, hingga lingkungan tumbuh kembang yang mendukung penyembuhan psikologis korban.
Sebab, efek traumatik korban pelecehan anak pada umumnya, dikatakan Probowatie justru dapat mendorong seseorang untuk melakukannya berulang kali, karena telah merasakan sensasinya.
Selain itu, efek berbeda seperti menutup diri dan merasa bersalah, hingga ada pula yang sengaja menceburkan diri ke dunia-dunia prostitusi, ketika beranjak dewasa karena alasan ekonomi.
Semua tergantung bagaimana orang terdekat dan lingkungan si korban dalam membentuk kepribadiannya, saat bertambah umur. (*)
Baca Juga: Jadi Model Tas Branded, Kecantikan Luna Maya Disanjung Netizen
Sumber: Psikolog RS. Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro