SuaraBandungBarat.id- Puluhan warga Kampung Cilangari RW 11 Desa Cilanggari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diduga mengalami keracunan makanan pada MInggu (12/2/2023).
Berdasarkan Data Puskesmas DTP Gununghalu menyebut, setidaknya ada 83 warga yang merasakan gejala mual disertai muntah-muntah dan sebanyak 46 orang menjalani perawatan medis di Puskesmas setempat dan 7 diantaranya dirujuk ke RSUD Cililin. Sementara itu, 30 orang menjalani perawatan di rumah.
Kepala Puskesmas DTP Gununghalu Dr Edi Junaedi mengatakan, pihaknya mengerahkan seluruh tenaga medis yang ada dan memaksimalkan seluruh tempat tidur yang ada di Puskesmas DTP Gununghalu untuk menangani para korban.
Kondisi ini membuat Puskesmas DTP Gununghalu kewalahan karena idealnya merawat maksimal 15 pasien sesuai ketersediaan tempat tidur atau bed. Belum lagi, tenaga perawat di puskesmas ini juga masih terbatas sehingga harus menerjunkan seluruh staf yang ada.
"Betul korban keracunan terus bertambah. Hari ini saja sudah ada lima orang masuk lagi. Jadi total yang dirawat di sini ada 46 pasien," katanya, Senin (13/2/2023).
Ia menambahkan, lantaran korban yang terus bertambah pihaknya melakukan alih fungsi ruang tunggu laboratorium yang berada di lantai dua menjadi tempat untuk perawatan para korban keracunan agar mendapatkan penganganan medis yang maksimal.
"Kita terpaksa pakai ruang tunggu Laboratorium untuk dipakai perawatan. Supaya gak diluar karena mayoritas pasien adalah lansia. Karena gak ada bed, mereka pakai tikar dulu," katanya.
Sementara itu, Kepala Saksi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes KBB, Mawaddah mengatakan, pihaknya saat ini telah mengambnil sampel makanan yang dikonsumsi warga untuk mengetahui penyebab pasti keracunan yang menimpa warga tersebut.
"Nasi kotak itu berisi nasi putih, ayam goreng, tumis bihun, tumis kentang. Kita sudah bawa dulu sampel makanannya untuk diuji lab," katanya.
Baca Juga: Jang Dong-Yoon Tampil Kentang dalam Still Cuts Drama Korea Terbarunya, Oasis
Ia menyebut, hasil uji laboratorium baru keluar minimal dalam waktu sepekan ke depan untuk memastikan penyebab pasti makanan yang mengakibatkan puluhan warga mengalami keracunan tersebut.
"Untuk dugaannya kita tidak bisa menduga-duga. Nanti penyebab pastinya menunggu hasil laboratoriumnya keluar dulu. Sekarang lagi kita proses ke laboratorium Provinsi Jawa Barat," tandasnya. (*)